Masih ada suara televisi
sayup-sayup dari ruang tengah. Nyala lampu terang. Kebekuan malam mulai datang,
ketika benar-benar kubuka satu jendela tepat disebelah tempat tidurku. Nyala
televisi tepat dihadapanku bahkan tak mewarnai ruang hitam, bisu.
Ruang dan isinya hanya seonggok barang diam tak bernyawa. Menatap ragu diantaranya. Hanya ada satu yang nyata, dibalik selimut lusuh menutupi sebagian raganya.
Semuanya masih utuh. Dari hari ini, kemarin, dan waktu itu. Satupun tidak ada yang luput dari jangkauan. Bahkan banyak hal baru yang kutemukan. Pikirannku utuh. Lewat kaca-kaca, cahaya mewarnai pekat hitam, membawa mataku pada cermin lainnya.
Diam sejanak, ibarat isi ruang lainnya. Bukan lampu, tapi cahaya televisi menerangi wajah. Sinar dari luar kamarku tak lekas menambah terang, malah menggetarkan lewat dingin malam luar.
Mataku tak berkedip memandangi sosok dibalik cermin. Ia tampak sayu.
Seutuh jiwa, raga, dan pikirnya yang nampak dihadapanku, masih ada cela jauh didalam batin.
Ada yang hilang. Bukan nyata, bukan pula perasaan belaka. Aku lihat, ia masih terjaga. Ada yang
hilang.Mataku mulai tajam. Masuk kedalam apa yang jelas kulihat dihadapanku. Ada yang
hilang. Ruang gelap. Televisi sudah tak menyala. Dan... Ia hilang. Yang tersisa hanya
dingin malam yang mengelus raga.
Hilang. Ia hilang dibalik gelap.
Hilang. Ia hilang dibalik gelap.
Aku menutup kembali jendela, menarik selimut, dan menutup seluruh bagian
tubuhku.
Keutuhan itu ada dibalik keruang gelap. Ada yang hilang.
Keutuhan itu ada dibalik keruang gelap. Ada yang hilang.