Wednesday, January 25, 2012

lain suasana, lain bahasa


Kadang-kadang saya malu sendiri membaca tulisan-tulisan yang pernah saya rangkai, baik dipost dinotes/blog, maupun yang hanya tersimpan rapi dalam laptop atau memopad blackberry. Semuanya hanya cerita personal yang mengisahkan seorang mahasiswa perantau yang berjuang hidup di kota orang. Berusaha membangun hidup, dengan belajar, tawa, dan cinta. Tapi tak sadar apa yang sebenarnya hendak diraih.
Itu semua tak penting. Yang saya tau, saya menulis bukan karena bisa, karena nyatanya tulisan saya hanya berisi kata-kata sederhana, kaku, membosankan. Tapi lebih dari sekedar kepuasaan jika saya berhasil merangkai kata sejernih saya mendengarnya.
Saya bukan orang yang pandai bercerita, menarik perhatian orang lain disaat berucap. Lain halnya dalam suatu kondiri yang sudah diatur, ditata rapi, tinggal saya saja yang bercuap-cuap ala gaya sendiri. Menulis jadi wahana membuka jendela dunia. Biar semua tau buah pikiran yang sempat terlintas dibenak. Acap kali orang-orang seperti saya memang tak punya cukup kemampuan menarik perhatian orang lain. Tapi kami punya cara yang berbeda. Kami tak perlu orang lain tau dengan cara kami, sekedar tau pola pikir, maka akan mengetahui dunia. Itulah mengapa saya mungkin akan jatuh hati pada orang lain lewat tulisannya. Saya bisa membaca dirinya, membaca pandangannya.
Beberapa novel yang beli, tak sepunuhnya akan saya baca sampai habis. Saya hanya butuh mereka sebagai acuan belajar bermain dengan kata dan majas. Saya hanya belajar bagaimana mereka berpikir, memetakan suatu masalah. Kalau saja nanti ilmunya terpakai ketika saya berniat menyusun buku kelak (amin).
Orang diluar sana tau saya anak yang pendiam –tapi mungkin tidak untuk sebagian orang yang dekat dengan saya. Nyatanya saya memang tidak sediam yang tampak. Mata saya tidak diam. Tengok kiri kanan. Batin saya bergejolak, otak sayapun mengais-mengais kata yang elok. Yah, saya sedang berusaha mendeskripsikan susana yang saya alami menjadi kata-kata yang mengalir dan syahdu dicermati. Saya tak perlu membawa pulpen atau sejenis alat tulis lain. Batin saya cukup merekam apa yang sudah terangkai. Urusan akan ditulis atau tidak, bukan masalah. Toh saya sebenarnya mampu merangkai kata, walau hanya duduk diam di bus kota, memandangi langit sore dan kemacetan Jakarta.
Seharian, saya bisa nyengir-nyengir sendiri menyadari saya dapat pola pikran baru. Dari sana, saya banyak belajar tentang apapun, dan siapapun. Saya banyak belajar melihat, mendengar, menilai dan memperhatikan.

Dan kalian juga bisa belajar, lewat kata, maka kita akan sadar dunia.