Membuka beberapa foto lama berarti membuka cerita yang sudah tersimpan rapi di memori. Kadang kala, semua mengingatkan kita tentang awal dari suatu hal atau suatu masa yang sempat hilang dari ingatan.
Foto-foto ini diambil ketika aku, kakak, adik, dan papa sedang berlibur ke Jakarta, singgah ke beberapa tempat wisata. Aku ingat kembali, kali kedua aku jatuh pingsan setelah sebelumnya sempat tumbang saat mengikuti upacara bendera setiap Senin pagi ketika duduk dibangku sekolah dasar. Kali ini aku jatuh karena cidera pada kaki akibat sempat terspeleset dari salah satu arena permainan di Taman Safari. Foto ini diambil ketika beberapa detik sebelum aku merasakan pandangan yang gelap dan pendengaran yang samar. Itu tanda-tanda aku akan jatuh pingsan. Aku langsung bilang kepada Om-ku yang kebetulan saat itu sedang mendampingi kami bermain. Lalu, digotong menuju tempat kami beristirahat, melewati kerumunan orang yang bingung apa yang sedang terjadi. Aku malu. Beberapa foto yang diambil setelah itu, tampak wajahku tak lagi bersemangat. Aku enggan menatap kamera dengan senyum dan tawa seperti yang kulakukan sebelum pingsan siang itu. Foto-foto lain menunjukkan gambar nenekku yang sedang memijati kakiku yang terpeleset. Aku ingat betul, saat itu aku pura-pura menarik kaku untuk menggarutnya. Aku malu kalau nanti teman-teman yang melihat foto ini bertanya ada apa dengan kakiku. Lalu mereka sadar kalau aku jatuh pingsan ditempat yang tak semestinya.
![]() |
| Foto dengan wajah pucat yang diambil beberapa detik sebelum aku nyaris pingsan |
Beberapa tahun setelah liburan itu, kedua adikku dan mama gantian berlibur ke Jakarta. Mereka juga menyempatkan diri main ke Taman Safari. Dari foto-foto yang mereka bawa pulang, aku melihat mereka berfoto tepat di salah-satu arena permainan tempat aku tergelincir. Padahal kakiku hanya jatuh tidak sengaja, tapi mengagetkan. Aku kembali malu dengan diriku sendiri.
![]() |
| Lokasi kejadian kakiku yang terpeleset dari pemainan gajah(kanan). |
--
Kubuka album lainnya. Kini kudapati foto ketika kami berkunjung ke Tangkuban Perahu, Bandung, Jawa Barat. Saat aku memandangi foto ini tepat dihari usai kami berlibur, aku benar-benar kagum melihat wajahku sendiri. Dengan potongan rambut yang sederhana dan senyum sederhana yang tersimpul diwajahku. Aku juga ingat, mengapa hingga kini aku menyukai potongan rambut bertingkat dibangian depan. Alasannya adalah karena aku terlihat cantik difoto ini-- menurutku saat itu. Tapi sekarang, aku sudah berumur hampir 20 tahun. Aku tak melihat ada keistimewaan dari foto ini. Hanya anak-anak biasa yang sedang berfoto tanpa ekspresi. Tapi, apa yang ada dipikiranku saat itu sudah cukup istimewa. Aku kembali tersenyum, dan mencoba mempraktekan lagi gaya foto itu.
![]() | |
| Tangkuban Perahun beberapa tahun silam | . |
--
Lagi-lagi, aku kembali terhenyak saat memandangi dua wajah mungil yang kupanggil adik. Itu adalah foto mereka ketika berlibur tadi. Keduanya masih sangat kecil, berumur sekitar 4 dan 3 tahun. Bayangkan, ini adalah masa-masanya seorang anak kecil berceloteh dan mengeluarkan kelucuannya. Tapi yang ada dipikiranku, aku bahkan tidak ingat dengan wajah itu. Aku bertanya-tanya pada diri sendiri, apa pernah mereka selucu ini? Itu kesalahanku dimasa lampau. Aku dan kakakku tak pernah memberikan perhatian lebih kepada kedua adik kami, dibandangkan perhatian yang kami curahkan untuk beberapa sepupu lainnya saat ini. Tiba-tiba aku rindu mereka. Aku rindu mereka yang masih lucu. Aku ingin mencurahkan perhatian dan kasih sayang sepenuhnya kepada mereka, mulai dari tanpa menjadi berharga.
![]() | |
| Meli (kiri) dan Iik (kanan). |
--
Banyak foto lain yang masih menggelitik. Tapi aku ingat, ini sudah jadi memori lama. Sepenuhnya tak akan terulang kembali. Waktu berjalan, masa berubah, tapi kita tetap sama.



