Sudah hari kedua puluh ibadah puasa, di bulan yang ke dua puluh satu
kali dalam hidup saya. Tapi ada yang janggal hari ini. Karena kebiasaan
yang malah tidak biasa ditahun ini. Saya teramat jarang berbuka puasa
di rumah seperti rutinitas bertahun-tahun lalu. Termasuk tahun kemarin
semasa masih menjabat 'mahasiswa'.
Malah tidak disangka, bukannya berbuka di 'tengah jalan' sembari pulang
kerumah, seperti prediksi saya. Tahun ini justru malah sering berbuka di
'luar rumah' secara sengaja. Kadang ada kerjaan kantor, berbuka dengan
klien, atau dengan kawan sekalian reuni seperti yang lagi trend kala
ini.
Saya juga sudah janji dari jauh-jauh hari. Mengurangi nafsu makan yang
teramat kanak-kanak. Semua jenis makanan yang tersaji dimakan, minum
dingin atau manis yang berlebihan. Sampai begah, jadi ngantuk tidak
karuan. Saya janji tahun ini. Dan saya sudah tepati sampai hari ini.
Mungkin karena bukan dirumah sendiri, alias 'di jalanan', perut dan
nafsu makan jadi gampang diajak kompromi.
Sekalinya cuma menegak air putih, seterusnya perut cuma sanggup minum
dan makan seadanya. Asal masih manis, semuanya bersih dilahap. Tapi
porsinya jauh berkurang.
Sudah hampir dua puluh hari, yah gitu-gitu aja. Kalau berbuka di luar,
saya hanya pesan minuman manis bervitamin. Kalaupun berbuka di rumah,
air putih, buah, dan makanan ringan seadanya. Makanan ringan yang memang
sudah tersaji seperti biasa.
Hmm, saking jarangnya nyiapin buka puasa dan kebanyakan makan di
restoran cepat saji, kok malah lupa harus berbuka dengan apa hari ini?
Saya sangaja menjadwalkan hari ini ke dokter gigi untuk check up gigi
rutin bulanan. Yang katanya bulanan, tapi ini sudah tertumpuk lebih dari
satu bulan. Jadi, mau ga mau, pokoknya kudu ke dokter gigi hari ini.
Seperti yang di duga-duga, sudah ada tujuh antrian pasien, bahkan
sebelum saya sampai dilokasi. Sebenarnya, dengan air putih yang sudah
saya bawa dari kantor, cukup untuk melepas dahaga puasa hari ini, dan
seperti biasa. Yang malah bikin insecure justru mati gaya gara-gara
kelamaan nunggu antrian. Yasudah, saya nyerah dan memutuskan untuk
membeli makanan berbuka.
Pilihan saya jatuh ke sebuah mini market dekat stasiun. Lama saya
berdiam memandangi deretan rapi makanan. Rasanya kali ini saya tidak
mungkin membeli semacam chiki (terlalu ringan), membeli semacam coklat (terlalu manis),
membeli roti (justru terlalu berat). Kenapa saya jadi merasa tidak kenal
diri saya sendiri. Tidak tau mau harus makan apa, dan memang tidak tau
maunya apa.
Masih dalam perjalanan menuju tempat praktek si dokter, saya lihat
orang-orang ramai disebuah kedai yang ternyata menjual 'gorengan'.
Seperti baru disadarkan dari hipnotis (agak lebay), nafsu makan saya
tiba-tiba menunjuk-nunjuk ke arah gorengan. Gegara banyak orang yang
sudah siap-siap nyerbu si ibu jualan, saya mundur saja. Kali ada
gorengan lain di depan sana. Saya berhenti di gerobak menjual tahu
'hot'. Langsung disambangin dengan pertanyaan yang sedikit konyol :
"Pak, tahu ya? (Baru ngeh kalau tahunya pedas dan ga baik buat perut)
ada tahun yang ga pedas ga?". Namanya juga tahu 'hot' ya jelas semuanya
hot, dong.
Buka puasa di tutup dengan potongan terakhir tahu yang kata penjualnya
tidak terlalu pedas, sembari ditemani air putih dari kantor, diantara
antrian pasien si dokter yang makin lama makin sesak.
Apa saya mulai tidak peduli diri sendiri? Mau makan saja sampai mikir-mikir lagi!
---
Happy breakfasting!