a cup of coffee
Satu sendok gula terakhir kutambahkan ke dalam segelas kopi yang sudah kusedu sejak sejam yang lalu. Bahkan untuk mencicipinya sejenak, aku belum sempat. setelah tumpukan kertas di meja kerja rapi sejenak, aku baru ingat. Ada segelas kopi yang kutinggalkan di pantry. Sedari tadi, rasa manis yang kuharapkan belum juga pas. Masih kurang, lagi dan lagi. Apa jadinya jika kopi dengan terlalu banyak gula?
Entah bagaimana rasanya, kuangkat dan kuhirup segera. Bukan lagi rasanya yang kupikirkan. Sedari tadi, yang ada diotakku hanyalah project kerjaku yang tak kunjung selesai. Setiap detik waktu, kumanfaatkan untuk berpikir. Sampai-sampai lupa bagaimana manis kopi sebenarnya. Aku tidak mencari sensasi segelas kopi. Hanya mencoba rutinitas pekerja lain yang mantap menghirup kopi di tengah hari. Ibarat menantang diri sendiri, memacu jantung berdegup lagi dan lagi. Hanya gara-gara segelas kopi, hah.
Segelas air hangat rutin ternyata belum cukup menghapus pikiran dari setumpuk pekerjaan. Ada rutinitas baru yang ingin kucuba, yang kata orang memacu stamina dan energi extra. Banjirnya iklan white coffe jadi bikin penasaran. Yang katanya tidak bikin kembung dan jantung deg degan. Ibarat kebiasaan yang tak bisa dipaksakan. Aku justru makin 'deg-degan'. Tapi resiko sewajarnya ditanggung sendiri. Kesukaan pada kopi jadi perlahan-lahan aku jajaki. Sudah berkali-kali diteguk, tapi aromanya candu. Rasanya? sudah tak karuan. Kutambahkan pemanis, cream, dan apa saja yang tersedia di pantry.
Aku jelas-jelas paling tau jika minum kopi jutru membuatku tidak tenang dan tidak konsen. Tapi kebosanan akan rutinitas malah mengalahkan semua kekhawatiranku atas kopi. Aku malah asyik menyeruput kopi putihku di meja. hmm sedap, batinku.
Ala bisa karena biasa. Selama batinku tetap bersuka cita, kenapa tidak. Kali ini aku mengalahkan logikaku hanya untuk segelas kopi.
n/b : Ada cerita dibalik kopi, segelas kopi, dan hati.