Cinta
di Ujung Sajadah, karangan Asma Nadia, buku yang baru saya tuntaskan
setelah berhari-hari mengikuti saya berkeliling mengisi keseharian.
Bercerita tentang pencarian seorang Ibu dan persahabatan yang
lagi-lagi mengusik perasaan saya. Membawa saya jauh ke dalam
permasalahan yang disuguhkan.
Ceritanya,
jangan ditanyakan lagi bagaimana seorang Asma Nadia membawa pembaca
masuk ke dalam cerita. Yang menawarkan terus semangat keislaman.
Sayangnya,
saya bergeming pada penutup tulisan yang menyajikan beberapa cerita
wanita-wanita tentang moment spesial bersama ibu mereka. Saya
terlanjur sedih. Jika saya diminta menjadi satu diantara mereka, maka
rasanya, saya perlu berhari-hari meningat manakah moment yang paling
spesial yang pernah saya alami bersama mama. Sedih.
Maka
saya teringat, mama yang tak pernah datang ke sekolah
anak-anaknya, saat itu duduk berdampingan bersama papa di acara
purnawisuda SMA saya. Keduanya, pasangan yang sama-sama mengenakan
pakaian bernada ungu. Mama, dengan jilab yang sederhana, sedari duduk
hanya sibuk merapikan jilbabnya yang tampak bergerak-gerak.
Selebihnya, memperhatikan saya yang duduk bersama jajaran wisadawan
lain, tanpa memperhatikan benar jalannya acara.
Saya
tahu, sejak beberapa kali jalan-atau hadir ke acara- bersama mama,
sebenarnya beliau tidak hanya fokus atas apa yang terjadi saat itu.
Saya tahu, ada banyak pikiran yang sebenarnya memberatkan hatinya.
Membuatnya terlihat selalu gelisah. Tapi sampai kapanpun saya tidak
pernah tau apa saja yang sebenarnya akan dipikirkan mama.
Tapi
hari itu, saya juga jadi ikut-ikutan melepas pandang ke mama yang
beberapa menit sekali merapihkan jilbabnya. Hari sebelumnya, saya
sudah sampaikan kepada mama, jika saya masuk menjadi salah satu
siswa-siswi dengan prestasi terbaik, maka mama dan papa akan diminta
naik ke atas pentas untuk mendampingi putrinya. Untuk itu, saya
meminta mama mengenakan baju senada dengan papa. Sebagai salah
seorang anggota komite sekolah, papa tidak perlu repot-repot
memikirkan baju apa yang akan dikenakan pada hari kelulusan putrinya.
Toh, beliau akan mengenakan seragam khsusus, sama seperti dewan guru
dan anggota komite yang lain. Mama akhirnya menyiapkan baju yang
senada.
Jauh
dalam hati, saya merasa senang, walaupun melihat mama sedikit
gelisah. Saya berharap dapat memberikan sedikit kebanggaan pada
mereka saat nanti saya dipanggil ke depan, atau saat saya
menyampaikan sambutan mewakili teman-teman satu angkatan. Saya
sebenarnya teramat senang, mama yang selama saya sekolah, tidak
pernah mau datang ke sekolah anak-anaknya, kini duduk bersama papa
dan orang tua murid lain menunggu hasil kelulusan ujian akhir SMA
kami.
Dulu,
saat kelulusan SMP. Saat aturan baru diterapkan. Hasil kelulusan
siswa hanya boleh diambil oleh orang tua, sedangkan murid-murid tidak
diminta datang untuk menghindari kerusuhan akibat euforia kelulusan.
Saya dan teman-teman yang sudah semangat datang ke sekolah terpaksa
harus mundur karena kami benar-bernar tidak dizinkan masuk ke
lingkungan sekolah.
Saya
pulang kerumah dengan berat. Tau bahwa tidak akan ada yang mau datang
ke sekolah karena hari itu papa sedang tidak di rumah. Dengan susah
payah, saya tetap gagal merayu mama untuk mau datang ke sekolah,
sekedar mengambil hasil kelulusan putrinya. Sebenarnya saya bersedih.
Menangis. Saya tidak begitu ingat siapa yang akhirnya datang ke
sekolah mengambil hasil kelulusan SMP. Kalau tidak orang tua dari
sahabat baik saya, atau tante yang kebetulan anaknya juga satu
sekolah dengan saya.
Hari
purnawisuda itulah yang saya tunggu-tunggu. Ketika papa dan mama ada
dihadapan saya saat mengutarakan ucapan terima kasih mewakili seluruh
wisudawan hari itu. Walaupun mama yang gelisah sambil merapikan
jilbabnya, senyum tetap tersungging sambil mengamati putrinya yang
duduk diseberangnya.
![]() |
| Kampus SMA Negeri 3 Kayuagung, 13 Juni 2009 |
Saya
senang, jika mama senang.
Selamat Hari Ulang Tahun Mama. Semoga senantiasa mendapat limpahan ridho dari Gusti Allah, diberikan kesehatan, dan dijauhkan dari marabahaya. Aminn. (6 Mei 2013)
Selamat Hari Ulang Tahun Mama. Semoga senantiasa mendapat limpahan ridho dari Gusti Allah, diberikan kesehatan, dan dijauhkan dari marabahaya. Aminn. (6 Mei 2013)
