Sunday, May 12, 2013

Mommy

Cinta di Ujung Sajadah, karangan Asma Nadia, buku yang baru saya tuntaskan setelah berhari-hari mengikuti saya berkeliling mengisi keseharian. Bercerita tentang pencarian seorang Ibu dan persahabatan yang lagi-lagi mengusik perasaan saya. Membawa saya jauh ke dalam permasalahan yang disuguhkan.

Ceritanya, jangan ditanyakan lagi bagaimana seorang Asma Nadia membawa pembaca masuk ke dalam cerita. Yang menawarkan terus semangat keislaman.

Sayangnya, saya bergeming pada penutup tulisan yang menyajikan beberapa cerita wanita-wanita tentang moment spesial bersama ibu mereka. Saya terlanjur sedih. Jika saya diminta menjadi satu diantara mereka, maka rasanya, saya perlu berhari-hari meningat manakah moment yang paling spesial yang pernah saya alami bersama mama. Sedih.

Maka saya teringat, mama yang tak pernah datang ke sekolah anak-anaknya, saat itu duduk berdampingan bersama papa di acara purnawisuda SMA saya. Keduanya, pasangan yang sama-sama mengenakan pakaian bernada ungu. Mama, dengan jilab yang sederhana, sedari duduk hanya sibuk merapikan jilbabnya yang tampak bergerak-gerak. Selebihnya, memperhatikan saya yang duduk bersama jajaran wisadawan lain, tanpa memperhatikan benar jalannya acara.

Saya tahu, sejak beberapa kali jalan-atau hadir ke acara- bersama mama, sebenarnya beliau tidak hanya fokus atas apa yang terjadi saat itu. Saya tahu, ada banyak pikiran yang sebenarnya memberatkan hatinya. Membuatnya terlihat selalu gelisah. Tapi sampai kapanpun saya tidak pernah tau apa saja yang sebenarnya akan dipikirkan mama.

Tapi hari itu, saya juga jadi ikut-ikutan melepas pandang ke mama yang beberapa menit sekali merapihkan jilbabnya. Hari sebelumnya, saya sudah sampaikan kepada mama, jika saya masuk menjadi salah satu siswa-siswi dengan prestasi terbaik, maka mama dan papa akan diminta naik ke atas pentas untuk mendampingi putrinya. Untuk itu, saya meminta mama mengenakan baju senada dengan papa. Sebagai salah seorang anggota komite sekolah, papa tidak perlu repot-repot memikirkan baju apa yang akan dikenakan pada hari kelulusan putrinya. Toh, beliau akan mengenakan seragam khsusus, sama seperti dewan guru dan anggota komite yang lain. Mama akhirnya menyiapkan baju yang senada.

Jauh dalam hati, saya merasa senang, walaupun melihat mama sedikit gelisah. Saya berharap dapat memberikan sedikit kebanggaan pada mereka saat nanti saya dipanggil ke depan, atau saat saya menyampaikan sambutan mewakili teman-teman satu angkatan. Saya sebenarnya teramat senang, mama yang selama saya sekolah, tidak pernah mau datang ke sekolah anak-anaknya, kini duduk bersama papa dan orang tua murid lain menunggu hasil kelulusan ujian akhir SMA kami.

Dulu, saat kelulusan SMP. Saat aturan baru diterapkan. Hasil kelulusan siswa hanya boleh diambil oleh orang tua, sedangkan murid-murid tidak diminta datang untuk menghindari kerusuhan akibat euforia kelulusan. Saya dan teman-teman yang sudah semangat datang ke sekolah terpaksa harus mundur karena kami benar-bernar tidak dizinkan masuk ke lingkungan sekolah.

Saya pulang kerumah dengan berat. Tau bahwa tidak akan ada yang mau datang ke sekolah karena hari itu papa sedang tidak di rumah. Dengan susah payah, saya tetap gagal merayu mama untuk mau datang ke sekolah, sekedar mengambil hasil kelulusan putrinya. Sebenarnya saya bersedih. Menangis. Saya tidak begitu ingat siapa yang akhirnya datang ke sekolah mengambil hasil kelulusan SMP. Kalau tidak orang tua dari sahabat baik saya, atau tante yang kebetulan anaknya juga satu sekolah dengan saya.

Hari purnawisuda itulah yang saya tunggu-tunggu. Ketika papa dan mama ada dihadapan saya saat mengutarakan ucapan terima kasih mewakili seluruh wisudawan hari itu. Walaupun mama yang gelisah sambil merapikan jilbabnya, senyum tetap tersungging sambil mengamati putrinya yang duduk diseberangnya. 

Kampus SMA Negeri 3 Kayuagung, 13 Juni 2009
Saya senang, jika mama senang. 
Selamat Hari Ulang Tahun Mama. Semoga senantiasa mendapat limpahan ridho dari Gusti Allah, diberikan kesehatan, dan dijauhkan dari marabahaya. Aminn. (6 Mei 2013)