Politik, yang kata orang licik dan menyakitkan.
Saya adalah salah seorang wanita yang secara sengaja tau politik sejak kecil, walaupun sampai sekarang belum paham benar tentang per-politik-an. Paling tidak saya lebih punya rasa 'mau' untuk paham politik yang 'kejam' seperti yang digadang-gadang, dibanding teman-teman disekeliling saya sekarang.
Sejak masa kampanye politik pemilihan calon anggota legislatif daerah dua periode lalu, saya mulai mengecap politik. Anggaplah saya masih duduk dibangku SMP, yang tidak tau sama sekali tentang pemerintahan apalagi politik. Namun, ikut sibuk melihat Papa yang sibuk kampanye. Rasanya dulu saya tidak sempat dan sedekat saat ini untuk banyak tukar pikiran dengan Papa. Ketidaktauan saya akhirnya dituangkan kepada Mama yang juga belum se-paham Papa tentang politik. Sejak itu, saya tau hal-hal kecil. Mulai dari kekuasaan partai politik, sistem pemilihan, terkhusus untuk pemerintahan di daerah. Di periode selanjutnya, saya yang sudah cukup dewasa. Saya mulai sadar, Papa teramat jarang di rumah karena mengurusi urusan politik dan kampanye. Ada banyak tumpukan poster, kalender, dan media kampanye lain yang bertumpuk di dalam rumah. Karena pengetahuan saya yang (mulai) meningkat, saya minta Papa sharing beberapa hal yang sedang dilakukannya saat itu.
Yang saya ingat, ada dua partai besar yang posternya dulu pernah di tempel di kantor-rumah kami, yakni Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Demokrat. Untuk urusan pemilihan kepala daerah, saya juga pernah melihat dua poster calon kandidat kepala daerah yang berbeda tersimpan di rumah. Untuk urusan politik, Papa hanya memasang satu diantaranya.
Duduk dibangku kuliah dan benar-benar mengenyah mata kuliah 'pengantar politk' dan 'sistem politik Indonesia', saya jadi tidak terlalu buta. Sedikit antusias dengan mata kuliah ini karena di dalamnya saya tau benar apa yang sedang dilakukan Papa dulu. Terlebih, tentang perbedaan sistem pemilihan calon anggota legislatif daerah di tahun 2004 dan 2009 yang berimbas pada karir politik Papa sekarang. Tidak jarang, saya dan Papa malah bahas tentang politik via telpon. Apalagi saat memanaskanya krisis Demokrat. Secara tidak langsung, krisis tersebut ternyata berimbas pada kondisi politik di daerah saya. Mungkin termasuk karir politik Papa. Sebagai orang dalam partai, Papa jelas lebih tau apa yang tidak diketahui banyak orang.
Tentang berbagai permasalahan politik yang tidak pernah diceritakan Papa, saya sebenarnya penasaran. Apa yang dikejar para calon legislatif. Walau dulunya, saya terusik untuk ikut-ikutan. Tapi saya sadar, duduk dikursi panas, dekat dengan 'kesempatan korupsi' mungkin bukan pilihan yang ringan. Mungkin banyak pengorbanan yang diberikan oleh Ayahandaku tersayang untuk karir politiknya. Saya sebenarnya tertegun dan tidak mengiginkan Papa 'mengorbankan' yang lebih banyak kalau hanya untuk duduk di kursi itu. Sayangnya, beberapa hari lalu, saya tau, keinginan saya gagal dipenuhi Papa.
Papa kembali tertantang masuk ke 'arena perang' di periode selanjutnya. Saya yang tidak bisa menahan Papa, berbalik mendukung sepenuhnya bahkan berniat memikirkan lebih jauh tentang visi Papa di periode ini. Sedang saya cari tujuan mulia dari Papa untuk rela melegakan diri duduk di kursi legislatif, biar tidak ada yang mubazir lagi. Kalau memang baik, kenapa harus ditahan lagi.
Walau dikata kejam, tapi politik bagian dari sistem demokrasi negara. Public opinion tentu mempengaruhi elektabilitas dan popularitas partai atau tokoh. Rasanya, kita jangan terlalu termakan, tentang politik yang di (dirasa) kejam.