Siapa yang tak takut pada hari akhir yang tiba-tiba datang.
Siapa juga yang tau kapan kedatangannya. Aku satu diantara mereka, yang
khawatir ketika jiwa dan raga tak siap menghadapi akhir dari kesementaraan, dan
hidup kekal seusai pertempuran.
Suatu malam disaat yang tidak terduga-duga. Saat semua orang masih terjaga. Gemuruh diluar sana menjadi pertanda awal dari kejadian kemudian. Langit, laut, dan dunia. Seolah semua orang sudah mengetahui apa yang akan terjadi di malam menjelang pagi.
Semua orang dalam kubik bangunan kaca yang besar ini berteriak panik. Bergegas merapikan semua barang yang masih bisa dimasukan dan segera dibawa pergi. Yang-ku lihat, bangunan ini besar. Memuat puluhan kepala keluarga yang takku kenal. Diluar sana tampak jelas langit dan luasnya laut. Gemuruhnya sepertiku kenal.
Sebelum semuanya terjadi, kami bergegas. Buru-buru pergi dari tempat ini. Waktu berjalan cepat. Tapi gerak kami serasa melambat. Banyak hal yang ingin kulakukan. Namun, seperti lumpur menyedot apapun diatasnya. Aku tertelan oleh waktu. Satu hal yang ada dibenakku. Keluarga, papa dan mama.
Ketika angin diluar bergemuruh kencang beradu dengan gulungan air tinggi. Awan hitam dan teriakan semua orang di kubik ini. Aku melihat sepasang orang tua dan anak duduk dengan tenang, sembari sang sang bapak atau ibu -aku tak ingat jelas- membimbing anak berdoa. Aku diam sejenak memandangi apa yang aku lihat. Beberapa detik aku gaduh lagi. Menangis tertahan dan bertanya di dalam hati. Apa yang sedang kami lakukan? Dunia ini akan segera berakhir. Kemanapun pergi, dunia tetap akan berhenti disini. Lantas, mengapa kami menghabiskan waktu untuk mengemasi semua barang dan lari dari kubik ini. Dunia tak sebatas kubik kaca yang kami tempati.
Aku masih menahan gejolak keinginanku, berharap bertemu kedua orang tuaku hari ini juga. Tapi aku sadar, semua tak mungkin sempat. Bahkan aku tak tau dengan apa aku kesana, saat dunia ini gelap gulita.
Kuputuskan untuk duduk tenang. Disaat langit mulai terang, teriakan masih terus menggarang. Ada suara yang seolah-olah semua orang dapat menebak arahnya. Itu pertanda, ketika matahari tak terbit lagi dari tempat biasanya.
Semua terasa menghimpit pikiran dan perasaan. Pandanganku luas tapi tak dapat lakukan apapun. Aku hanya berdoa, pada Tuhan Yang Maha Pencipta. Dan berharap, mungkin untuk yang terakhir kalinya, aku ingin bertemu mereka sebelum tiba waktunya. Gemuruh diluar sana seolah memberikan tanda padaku, "semua terlambat". Aku hanya mampu menangis ketika tanganku bahkan tak lagi bisa mengusapnya. Ketakutan luar biasa menyelimutiku yang duduk dibarisan rapi bersama yang lain.
Tak ada gunanya lagi meraung-raung. Tenangkanlah diri dan bedoa.
Tiba-tiba,
Aku tersadar. Dihadapanku adalah gelap. Di dalam ruang yang kunamai kamar. Aku tak bisa tidur lagi, malah termenung mengulang semua yang barusan datang dimimpiku.
Pertanda apa?
Suatu malam disaat yang tidak terduga-duga. Saat semua orang masih terjaga. Gemuruh diluar sana menjadi pertanda awal dari kejadian kemudian. Langit, laut, dan dunia. Seolah semua orang sudah mengetahui apa yang akan terjadi di malam menjelang pagi.
Semua orang dalam kubik bangunan kaca yang besar ini berteriak panik. Bergegas merapikan semua barang yang masih bisa dimasukan dan segera dibawa pergi. Yang-ku lihat, bangunan ini besar. Memuat puluhan kepala keluarga yang takku kenal. Diluar sana tampak jelas langit dan luasnya laut. Gemuruhnya sepertiku kenal.
Sebelum semuanya terjadi, kami bergegas. Buru-buru pergi dari tempat ini. Waktu berjalan cepat. Tapi gerak kami serasa melambat. Banyak hal yang ingin kulakukan. Namun, seperti lumpur menyedot apapun diatasnya. Aku tertelan oleh waktu. Satu hal yang ada dibenakku. Keluarga, papa dan mama.
Ketika angin diluar bergemuruh kencang beradu dengan gulungan air tinggi. Awan hitam dan teriakan semua orang di kubik ini. Aku melihat sepasang orang tua dan anak duduk dengan tenang, sembari sang sang bapak atau ibu -aku tak ingat jelas- membimbing anak berdoa. Aku diam sejenak memandangi apa yang aku lihat. Beberapa detik aku gaduh lagi. Menangis tertahan dan bertanya di dalam hati. Apa yang sedang kami lakukan? Dunia ini akan segera berakhir. Kemanapun pergi, dunia tetap akan berhenti disini. Lantas, mengapa kami menghabiskan waktu untuk mengemasi semua barang dan lari dari kubik ini. Dunia tak sebatas kubik kaca yang kami tempati.
Aku masih menahan gejolak keinginanku, berharap bertemu kedua orang tuaku hari ini juga. Tapi aku sadar, semua tak mungkin sempat. Bahkan aku tak tau dengan apa aku kesana, saat dunia ini gelap gulita.
Kuputuskan untuk duduk tenang. Disaat langit mulai terang, teriakan masih terus menggarang. Ada suara yang seolah-olah semua orang dapat menebak arahnya. Itu pertanda, ketika matahari tak terbit lagi dari tempat biasanya.
Semua terasa menghimpit pikiran dan perasaan. Pandanganku luas tapi tak dapat lakukan apapun. Aku hanya berdoa, pada Tuhan Yang Maha Pencipta. Dan berharap, mungkin untuk yang terakhir kalinya, aku ingin bertemu mereka sebelum tiba waktunya. Gemuruh diluar sana seolah memberikan tanda padaku, "semua terlambat". Aku hanya mampu menangis ketika tanganku bahkan tak lagi bisa mengusapnya. Ketakutan luar biasa menyelimutiku yang duduk dibarisan rapi bersama yang lain.
Tak ada gunanya lagi meraung-raung. Tenangkanlah diri dan bedoa.
Tiba-tiba,
Aku tersadar. Dihadapanku adalah gelap. Di dalam ruang yang kunamai kamar. Aku tak bisa tidur lagi, malah termenung mengulang semua yang barusan datang dimimpiku.
Pertanda apa?