Wednesday, February 1, 2012

Seutuhnya adalah Keluargaku


Tanggal 1 Februari, tepat hari ini, walaupun liburan semester belum usai, tapi aku benar-benar harus segera kembali ke Jakarta. Menyelesaikan beberapa kewajiban kampus yang masih tergantung disana. Tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kepulangan kali ini terasa begitu berat. Kini, diusiaku yang akan segera menginjak 20 tahun, aku mengenal kembali keluargaku. Seharian menjelang kepulanganku, yang kulakukan hanya tidur, dan sedikit makan. Enggan beraktifitas apapun. Barulah malamnya kucoba untuk menulis beberapa tulisan yang sudah kupersiapkan sebagai oleh-oleh liburan. Ini bukan tentang kesedihanku yang akan segera pulang dan meninggalkan sementara keluarga inti di Kayuagung. Ini tentang peran dan pemahaman orang tua dan seorang anak yang akan aku coba bagi dengan semuanya.
Di masa kecil –mungkin ketika aku duduk dibungku SMP dan SMA, aku merasa aku tahu bagaimana hidup ke depannya. Banyak aktifitas habis kubagikan dengan Papa, bukan justru dengan Mama. Kesukaanku untuk beroganisasi dan berdiskusi juga selalu kubagi dengan Papa. Setiap Papa datang menjemputuku dari asrama ketika SMA atau sekedar mengantarkan makanan, kusempatkan untuk bercerita, tentang bagaimana menghabiskan waktu di sekolah. Semuanya dengan Papa, sekali lagi bukan dengan Mama. Sebaliknya, justru banyak kegiatan rumah, khusunya dapur kulewatkan begitu saja, mengingat sehari-hari aku lebih banyak main di asrama, bukan dirumah. Jadi wajar kalau hingga saat ini aku masih meraba-meraba kalau disuruh masak, atau melakukan kegiatan rumah lainnya. Menurutku, seiring waktu berjalan, seiring aku kelak belajar.
Semuanya berjalan datar hingga akhir tahun menjelang kelulusanku di bangku SMA. Boleh dibilang, aku akan pergi cukup jauh dari kehidupan sehari-hariku yang sekarang. Hidup dengan suasana lain di ibukota dengan keluarga lainnya. Tentu terasa sangat berbeda. Kalau banyak temanku selalu ditelpon mama untuk menanyakan kabar dan mengorganisir keuangannya, tapi tidak sama halnya denganku. Yah, aku tetap tergantung dengan Papa. Yang selalu sigap menelpon setiap minggu adalah Papa. Apalagi disaat ujian. Di sambungan telpon, aku sekali-kali menanyakan kabar Mama, meminta pendapat Mama kalau sedang sakit. Tapi Mama jarang membuka percakapan denganku. Walaupun sebenarnya Mama memang orang yang tidak terlalu terbuka dengan siapapun.
Akhir-akhir ini, aku mulai membiasakan diri untuk sering menelpon Mama. Sekedar meminta pendapat tentang kepulanganku, tentang aktifitasku. Mama pun menjawabnya. Tau apa ini maksudnya? Mama mau terbuka jika kita yang memulainya. Sejak itu, tepat pada kepulanganku kini, aku melihat Mama yang berbeda. Mama yang dekat denganku. Aku sadar, sebagian sifatnya, kini mendarah ditubuhku. Begitupun Papa. Hampir dua tahun tidak tinggal bersama mereka, aku seolah melihat ada aktifitas baru disini –yang memang sudah ada sejak lama. Tapi kini semuanya jelas. Papa dan Mama memang punya peran yang berbeda. Aku saja yang selama ini kabur memaknainya. Mama adalah seorang ibu rumah tangga yang begitu telaten mengurusi rumah dan isinya. Peduli yang teramat dalam pada kebutuhan anak-anaknya –kedua adikku. Papa menjadi pelakon yang mengatur hidupnya suatu keluarga. Lebih dari itu, aku sadar aku punya keluarga yang utuh.
Disini, di rumah ketika usiaku hampir kepala dua, aku temukan zona nyaman yang tak akan pernah dapat tergantikan. Aku yang sengaja usil pada adik-adikku, sedikit keras, dan cuek. Manja dengan Mama yang padahal sudah capek mengurusi seisi rumah. Patuh pada Papa yang sudah lama jadi laki-laki yang paling aku sayangi.
Ini rumahku, keluargaku, yang tak dapat tergantikan oleh apapun, kapanpun…
--------