Menyimpukan senyum pagi setiap hari walau dipaksa terbelalak mencari posisi jarum jam dinding yang tergantung diatas pintu kamar. Padahal sudah jelas terlhat, tapi aku tetap menarik handphone yang tersimpan dibalik bantal. Memastikan hari apa dan jam berapa sekarang.
Hei, ini masih pagi. Jam di handphone menunjukkan pukul 02.03 WIB. Tepat ketika aku bangun dan sadar laptop masih menyala dihadapanku. Aku berusaha menyadarkan diri. Headset pun masih tepasang di laptop dan lampu masih menyala terang. Sedikit pusing, tapi nyatanya aku masih disibukkan dengan beberapa kertas yang berserakan ditempat tidurku. Semalaman, hmm mungkin beberapa jam saja aku tidur bersama laptop dan kertas ini.
Segera kurapikan semua dan sejenak menarik nafas. Aku kembali dengan handphone yang disimpan dibalik bantal. Lalu, aku melangkah keluar, megintip lewat kaca pintu kamarku. Langit malam ni gelap. Ada beberapa titik bintang yang terlihat dibalik pintu kaca kamarku. Kursi diluar sana tampaknya nyaman diduduki sedari aku menunggu bintang jatuh dibalik kemelut awan hitam.
Dingin, sampai benar-benar menusuk kulit. Aku mengambil selimut dan memutuskan untuk merefresh sebagian memori yang sudah penuh karena urusan akademik. Beberapa hari terakhir aku bahkan tak sempat sekedar membalas bbm teman-teman, atau mengecek timeline twitter yang biasa aku lakukan kalau sedang ngantuk atau bosan dikelas.
Sepanjang hari aku hanya menyibukkan diri dengan beberapa tugas kuliah semakin hari terasa semakin berat. Tapi semua tetap aku lakukan dengan baik sebelum aku menyesal melihat ip yang nyaris turun setiap semester. Aku juga tidak ingin mengeluh terlalu banyak untuk apa yang ada disemester ini. Nyatanya aku adalah pelaku tunggal yang memutuskan jurusanku sekarang.
Dan sedikit random, aku memikirkan tentang kehidupan masa depan. Membangun keluarga baru dan kehidupan baru. Aku tidak bicara untuk meningalkan keluarga lama, mereka sudah mendarah daging di dalam benakku. Aku hanya terpikir jika kelak hidup dengan seseorang baru, yang bahkan hingga kini aku tak punya calonnya. Sepintas aku hanya iri dengan ibu-ibu muda yang bisa senang bermain dengan anak-anaknya. Usia mereka terpaut tidak begitu jauh. Selain sang anak yang berbahagia, tentulah ibunya pun merasa senang, pikurku.
Sedikit, aku akhirnya terpikir untuk mengurungkan niatku menikah diusia diatas 25 tahun. Walaupun belum bulat, tapi sekarang aku punya pertimbangan baru yang masih samar. Aku sendiri tak yakin mau melakukannya, karena membangun rumah tangga itu tidak mudah. Butuh waktu untuk saling mengenal dan memahami satu sama lain. Terlebih, keluarga baru jangan sampai menghambat keinginanku berkarir dan berpendidikan. Yang jelas, semua plot waktu harus segera kurencanakan.
Ngomong-ngomong langit sudah tak gelap lagi. Sedikit-sedikit mulai ada cela-cela cahaya. Aku masih betah disini, di balkon dingin depan kamarku.
-hanya cerita belaka