Thursday, August 25, 2011

Catatan dariku, untukku

Udara pagi yang sejuk mengalun diantara dedanunan dan ranting-ranting, beradu dengan embun yang berubah menjadi tetesan air. Cahaya fajar perlahan mengintip melalui cela-cela jendela, pertanda ia akan segera menerangi hari ini. Lampu jalanan satu per satu redup digantikan cahaya matahari. Kegelapan lambat laun sirna, berganti cahaya terang yang menenangkan. 

Lampu kamar masih menyala terang pertanda masih ada orang yang terjaga didalamnya. Dibalik selimut hangat, ia terbaring tapi tidak tidur. Kepalanya masih cukup pusing karena hari itu ia tidak begitu sehat. Suhu tubuhnya cukup panas untuk ukuran biasanya. Matanya berjalan mengikuti arah huruf-huruf berjajar dihadapannya. Sebuah buku bertuliskan “Hujan dan Teduh” masih menarik perhatiannya. Bahkan sampai matahari terbit, ia tetap terjaga. 

Usai melakukan kewajibannya di waktu subuh, wanita ini memutuskan untuk melanjutkan membaca novel yang dipinjam dari salah seorang saudaranya. Entah karena ceritanya menarik atau memang ia tak bisa tidur akhirnya ia menyelesaikan lima puluh halaman novel untuk dibaca, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk beristirahat. Sejak semalam, ia kurang tidur atau tepatnya tidak bisa tidur karena kerongkongannya masih sakit, pertanda ia akan sakit. 

Dengan fokus matanya mencerna setiap kata yang tumpah di dalam novel tersebut. Ia masih penasaran dengan akhir cerita novel yang dibacanya sejak kemarin tersebut. Namun, rasa penasarannya beradu dengan perasaan tidak tenang akan keadaan ayahnya yang mendadak harus pergi ke Jakarta usai sahur tadi. Entah apa yang membayangi perasaannya. Kesayangannya kepada orang tua laki-lakinya tersebut dapat mengalahkan apapun yang ada di dunia ini. Termasuk keselamatannya sendiri, pikirnya. 

Panas pagi sudah benar-benar menyinari bumi kala itu. Waktu menunjukkan pukul 08.00 WIB. Kebisingan jalan raya dan isi rumah saat itu tak membuatnya sadar dari tidur paginya. Selimut yang dipakai masih rapi menutupi tubuhnya yang hangat. Hingga beberapa menit berlalu, matanya mulai bergetar pertanda ia akan segera sadar dari tidurnya. Hal pertama yang ia lihat ketika bangun pagi ini adalah jendela kamar yang masih tertutup rapat. Pantas saja ia tak bergeming dan masih lelap di alam mimpi. Tidak ada seorangpun yang membangunkannya, walaupun hanya untuk membukakan jendela kamar. Salah seorang saudara perempuan yang tidur satu kamar dengannya juga sudah tak ada di tempat tidurnya. 

Keadaanya masih belum cukup baik, tetapi ia tetap bangun dan mencuci muka. Adik perempuannya sudah sibuk dengan aktifitas masing-masing. Satu sedang asyik bermain game online, yang lainnya sedang sibuk menggedong sepupu kecilnya yang kebetulan main ke rumah. 

Belum cukup niatnya untuk mandi dan membersihkan diri ketika bangun. Akhirnya ia memutuskan untuk nimbrung bermain dengan sepupu kecilnya. Pikirannya kembali pada ayahnya yang sudah berangkat dengan pesawat pukul 07.40 tadi. Diliriknya jam pada Blackberry miliknya, pukul 08.44 WIB. Papa mungkin sudah tiba di bandara, gumamnya. 

Disela-sela waktu bermain, ia juga membalas email, sms dan BBM yang masuk pagi itu. Setelah semua urusannya dengan orang luar selesai, kini ia kembali merengkuh buku novel yang belum selesai dibacanya.

Terbang Menghempas Air
Nelayan-nelayan bertopi bambu mendorong perahu ke tepi
Anak-anak berlari-lari
Meninggalkan jejak kaki kecil di pasir,
yang terhapus ombak kemudian
Kelakar dan tawa diterbangkan angin ke atas tebing,
deburan ombak menghempas karang angkuh yang bergeming
mengejek sayatan pilu yang didesaukan angin dari carawala lain
Dia bermain-main terhempas di sini
Di tempat tersepi dari kesendirian
Berbisiklah dia.
Tuhan, aku sering alpa

Hujan dan Teduh, hlm. 201 (Wulan Dewantara)

Hembusan nafas yang panjang ketika ia membaca kalimat terakhir dari novel tersebut. “Kenapa cerita-cerita novel akhirnya selalu menggantung, meminta pembaca menebak-nebak sendiri akhir cerita sesungguhnya,” gumamnya dalam hati. “Kenapa tidak sekalian ditulis pasangannya menikah jika berakhir bahagia, atau sekalian meninggal saja. Biar lebih pasti.”

Ia bangun dari singgasananya membaca. Kepalanya selalu pusing ketika ia bangkit dari duduk atau dari posisi tidur. Penyakit lama yang tak kunjung disembuhkannya. Ia melihat keadaan rumah yang masih kotor. Belum tergerak sama sekali niatnya untuk membersihkan kamar dan pakaian yang masih tergeletak di kamarnya. Ia memutuskan untuk mandi agar pusing yang mengantunginya bias segera pergi. Beberapa jadwal buka puasa bersama juga terpaksa harus dibatalkan. Salah satunya dengan rekan Paskibraka.

Cuaca siang di hari ke dua puluh lima ramadhan cukup terik. Seperti biasa, tidak ada hujan atau mendung yang menyelimuti kota Kayuagung hari itu. Ia kembali terlelap di alam mimpi setelah menyelesaikan semua pekerjaanya. Entah bagaimana caranya ia bias tetap bertahan dalam kondisinya untuk menjalakan puasa hari ini. 

Ditulis untuk penulis.
Kayuagung, 25 Agustus 2011.
Hasti Triana Putri