Cukup menggugah hati untuk konsisten berkerja menjadi wartawan handal, dengan tekad menghasilkan tulisan. Bukan sekedar informasi, juga menganalisis dan mencari solusi.Tulisan dengan hasil analisis yang tajam, serta isu-isu lain yang ada disekitar dunia kesehatan Indonesia. Dengan mengangkat judul “Peran media dalam Mengontrol Rasionalisasi Peresepan Obat, Irwan Julianto menyampaikan bahwa wartawan dan dokter mempunyai tugas yang mulia dan terhormat bagi masyarakat. Kedua Profesi ini juga besifat Underdog. Namun, kedua pelaku didalamnya adalah manusia yang tentu tak luput dari Abuse of Power. Dengan penanya masing-masing, Dokter menuliskan Resep dan Wartawan menuliskan berita. Dengan Penanya juga, kedua profesi ini bisa terpengaruh untuk melakukan penyimpangan atas profesinya.
“Obat : Berkat atau Laknat?”
Tahun 1980an, Industri Farmasi Indonesia menjiplak resep untuk obat tanpa melakukan riset terlebih dahulu. Yang memulai adalah Industri farmasi Asing dan dicontoh oleh farmasi swasta Nasional Indonesia. Penjiplakan resep ini dilakukan dengan bahan yang lebih murah. Karena obat dibuat tanpa riset, maka waktu yang diperlukan lebih cepat dan biaya juganya juga lebih murah, tapi dijual dengan harga yang sama bahkan lebih tinggi.
Pada tahun 1986, barulah ada pergerakan untuk memperbaiki kualitas obat di Indonesia. Salah satu langkah yang diambil adalah Menteri kesehatan melarang pembuatan contoh Obat.
Obat di Indonesia adalah obat termahal di Asia Pasifik (Harian Kompas, Selasa 05 Desember 1995)
Dalam seminar kali ini, Irwan Julianto juga menyampaikan penggunaan obat Generik yang lebih baik dari pada obat bermerek tapi hasil jiplakan.
Kunci untuk beberapa masalah kesehatan adalah :
- Dokter dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI)
- Kemauan Politik Indonesia (Eksekutif dan Menkes)
- Konsumen
- Sistem pembiayaan kesehatan
Senada dengan apa yang disampaikan diatas, Dokter Iwan dari UGM juga menyatakan bahwa tidak semua dokter itu Benar. Kita tidak boleh percaya begitu saja dengan dokter, walaupun beliau sendiri adalah seorang dokter. Sebagai pasien, tentu kita boleh berdiskusi dengan dokter untuk menentukan obat/resep obat. Ada beberapa catatan mengenai kesalahan yang sering dilakukan oleh dokter, antara lain :
Perlu diketahui pula bahwa produksi antibiotik sudah dihentikan sejak tahun 2007. Untuk itu kita perlu berhemat dalam mengkonsumsinya. Antibiotik tidak perlu diberikan kepada semua pasien, melainkan hanya untuk pasien yang membutuhkan saja.
Kesehatan tentu adalah bagian hidup yang sangat penting dan harus dijaga dengan baik. Gunakan antibiotik secara rasional sesuai anjuran dokter, untuk kesehatan aku, kamu dan Dunia lebih baik lagi.
Selamat Hari Kesehatan Dunia, 07 April 2011 J
