Kebanyakan orang sudah meremehkan kesehatan dan berpikir selama ada dokter, penyakit apapun bisa disembuhkan. Tetapi, manusia tetap manusia yang mempunyai kekhilafan. Mungkin masyarakat tidak tahu fakta apa yang ada dibalik dunia kesehatan. Let’s check this out J
Ini adalah tulisan mengulas seminar yang saya ikuti 26 Maret lalu, atas kerjasama LOMA Society of Indonesia dan Yayasan Orang Tua Peduli (YOP). Seminar ini diselenggarakan dalam rangka memperingati hari kesehatan sedunia yang jatuh tanggal 07 April setiap tahunnya. Diadakannya seminar ini adalah untuk mensosialisasikan penggunaan antibiotik kepada masyarakat yang dalam hal ini diawali dengan sosialisasi kepada wartawan. Semua undangan tentu adalah wartawan dari berbagai media, baik cetak, maupun onlie. Namun sayangnya, wartawan yang hadir hanya 50% undangan. Sisanya diisi oleh mahasiswa Komunikasi Reguler maupun Vokasi yang tertarik dalam dunia jurnalistik, termasuk saya.
Materi yang dibahas ringan tetapi penting untuk diketahui. Pembicaranya juga adalah orang-orang hebat dibidangnya, sebut saja Irwan Julianto (wartawan Kesehatan Kompas) yang sangat konsisten kerja dibidangnya. Banyak tulisan hasil kajian mengenai dunia kesehatan Indonesia yang diciptakannya. Ada pula Prof. dr. Iwan Dwi Prahaasto M.Med Sc. PhD, pengajar di Fakultas Kedokteran UGM. Serta tamu perwakilan dari WHO, Dr. Khanchit Limpakarnjanar dan Reuters Hongkong, Ee Lyn Tan.
Adalah tugas bagi saya untuk menyampaikan beberapa hal penting yang tentu berguna untuk kehidupan kita. Dalam sambuatannya, Dr. Khanchit Limpakarnjanar, perwakilan WHO menyampaikan fakta-fakta tentang antibiotik yang mungkin belum kita ketahui. Sebenenarnya kita sangat akrab dengan istilah antibiotik, apalagi bagi orang-orang yang tergantung dengan obat ketika sakit. Antibiotik hanya menyembuhkan penyakit akibat infeksi. Di masyarakat, antibiotik kerap dibeli tanpa resep dan tanpa penjelasan. Masayarakat sering membeli antibiotik hanya dengan resep yang pernah didapat sebelumnya. Kebiasaan buruk ini jelas membawa dampak bagi pengguna antibiotik. Bakteri bermutasi sehingga ia tahan (kebal) terhadap antibiotik.
Sebagai contohnya, Carbapenem (antibiotik yang paling mutahir) tidak dapat lagi membunuh bakteri NDM-1. Secara logika bisa hubungkan dampak buruk yang dihasilkan karena penggunaan antbiotik yang berlebihan/tidak sesuai aturan. Dalam rangka mengobatinya, tentu membutuhkan biaya dan waktu yang lebih banyak. Oleh karena itu jagalah efektifitas penggunaan antibiotik untuk masa depan kita.
- Antibiotik dapat tidak mempercepat penyembuhan dan tidak dapat mencegah penularan
- JIka memang ada indikasi, konsumsi antibiotik sesuai dosis
Untuk itu, apa yang perlu dilakukan oleh masyarakat dalam rangka penggunaan antibiotik secara rasional :
- Pengobatan rumah yang aman
- Mempertimbangkan kapan perlu ke dokter
- Membangun komunitas yang setara dan rasional dengan dokter-dokter untuk meningkatkan peresepan nasional.
Kesehatan yang sangat berharga harus dijaga. Obat untuk menyehatkan bukan tidak untuk menyengsarakan.
WHO – Hari Kesehatan Dunia (07 April 2011) “Resitensi terhadap penggunaan Antibiotik”
