Berawal dari percakapan sederhana saya dan sahabat. Tentang bagaimana kita menghasilkan suatu tulisann yang bermakna dan berguna tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga orang yang membacanya. Tapi bagaimana kita bisa menulis tanpa ada sepucuk ide di kepala?
Itulah yang kami keluhkan saat itu. Ingin sekali menghasilkan suatu tulisan, tapi tak ada yang bisa ditulis. Semakin lama berdiam, ide pun tak kunjung datang.
Banyak pandangan yang diberikan oleh orang mengenai bagaiaman menulis yang baik. Ada yang bilang, tulisan yang baik dihasilkan ketika kita berada dalam perasaan paling klimaks dari moment yang akan ditulis. Ada juga yang bilang menulis membutuhkan waktu-waktu khusus agar angle tulisan bisa lebih fokus.
Menalaah lebih jauh mengenai pemikiran itu, pribadi saya merasa bahwa menulis tidak seharusnya dalam kondisi klimaks Karena dalam kondisi demikian, semua perasaan kita cenderung tidak terkontrol. Menyebabkan semua hal ingin diluapkan tanpa aturan tertentu.
Ada baiknya, kita mencermati terlebih dahulu apa yang sebenarnya kita pikirkan, apa yang kita rasakan. Jika itu suatu masalah, maka temuakan lah penyebabnya, temukanlah solusinya. Sehingga diajurkan untuk membuat draft tulisan berupa hal-hal yang ingin kita tulis. Dalam susunan yang tidak beraturan, its okay. Setelah perasaan kita mereda, kondisi sudah stabil, barulah kita bisa menulis. Lewat draft yang sudah kita susun, penyebab yang sudah kita analisis dan solusi yang sudah kita temukan.
Saya pun sudah berulang kali menganalisis tentang kecendrungan saya untuk menulis. Demikian hasilnya.