Friday, January 17, 2014

PANGGUNG

Kami memikmati kata hidup dengan berbeda. Siapapun tentu punya arti hidup dan kehidupan bagi mereka. Di sekotak kecil perkampungan, ada banyak kepala, maka disana ada banyak kehidupan.

Aku misalnya. Berada disepetak kehidupan untuk waktu yang cukup lama. Maka disini aku menengok kehidupan lain. Yang kadang aku pikir, ini bukan kehidupanku. Maka kadang, kita hanya sedang bersandiwara di panggung kehidupan orang. Tapi sandiwara ini yang membuat kita hidup, untuk kehidupan kita.

Satu diantaranya. Menyebut hidupnya adalah kebenaran, bahwa hanya ia yang selalu benar -hanya dalam kehidupannya. Maka yang lain, bersandiwaranya menyebut itu benar -hanya dalam kehidupannya.

Yang lain. Hidupnya adalah tenang, cenderung diam. Menikmati yang namanya hidup dalam sebuah kata bernama diam. Sebagian lain disebut pengamat namun memilih tidak terlibat. Pemain lainnya, termasuk aku, tidak sepenuhnya sadar, akankah ia masuk dalam panggung hidup orang. Atau hanya menikmati sendiri hidupnya -diamnya.

Ada juga. Seseorang yang hidup untuk bersandiwara di kehidupan orang. Ibarat pemain drama. Yang mencari cela selalu tampil dari panggung ke panggung. Mungkin, ia menyebut kehidupannya adalah permainan. Hidup untuk bersenang-senang. Senang terlibat dalam hidup orang.

Satu lagi. Menikmati hidup dengan nafsu. Melakukan sesuatu dengan nafsunya maka menghilangkan sebagian pemain dalam kehidupannya. Menutup telinga. Membuka mata. Tapi maunya yang utama.

Ketika lelah. Maka kita memilih beristirahat sejenak. Menyusun kembali cerita-cerita. Memilih pemain yang akan berperan. Lalu, memulai kembali sandiwara. Dengan orang baru? Mungkin.