Tampaknya pikiranku salah. Tempat parkir sudah penuh sejak sore. Di dalam sana ada banyak pasang mata yang tengah menghabiskan malam minggu di area Monas. Aku pun sudah lama tidak main kesini. Untuk pertama dan terakhir kali sebelum malam ini, aku datang ke monas saat duduk di bangku SMP. Semuanya sudah berubah disini.
Mobil sudah tidak diperkenankan lagi masuk ke area Monas, begitupun dengan Delman. Para penajalan kaki juga tidak diizinkan sembarangkan masuk. Apalagi pedagang liar yang dapat mengotori area Monas. Saat kami datang, orang-orang sedang berlarian keluar. Sedikit kaget. Tapi setelah disadari mereka adalah pedagang liar yang lari menghidari kejaran POLPP.
Dibawah remang-remang lampu yang menyinari area monas, ada beberapa pasangan yang duduk berduan di bangku. Anak-anak yang menyebut diri mereka punk, juga banyak disekitaran monas. Duduk bersantai sambil menghisap rokoknya. Ada banyak keluarga yang menghabiskan malam minggu ini untuk camping disana. Mereka duduk dengan tikar sambil menyantap makanan dihiasi pemandangan monas yang bercahaya malam itu. Senang sekali tampaknya.
Aku dan beberapa anggota keluarga hanya berpose cantik didepan kamera handphone lalu memutuskan untuk pulang. Dilapangan parkir masih dapat ditemui beberapa panganan khas betawi. Salah satunya kerak telor. Beberapa pedagang lain juga berkumpul disatu tempat yang telah disediakan. Menjajakan dagangan mereka dengan harga yang cukup melambung tinggi. Bagi yang tidak biasa menawar, mungkin akan tertipu dengan harganya. Jangan langsung membeli, tapi tanya dan tawarlah dulu harganya. Ah tips yang baik.
Inilah salah satu tempat bersejarah sekaligus tempat wisata yang dimiliki Kota Jakarta. Syukurlah tempat ini masih dirawat denganb baik. Sampai bertahun-tahun kedepan, sejarah yang disimpan didalamnya takkan pernah dilupa oleh bangsa Indonesia.


