Wednesday, November 30, 2011

he still called 'vhi'

Dinginnya pagi itu sama seperti hari-hari kemarin. Keadaan rumah dan seiisinya pun tetap sama. Satu dan yang lain sibuk dengan aktifitasnya. Bersiap berangkat ke kantor. Aku yang selalu bangun paling akhir masih betah bersembunyi dibalik selimut. Bergeming walau suara hairdryer mengusik tidur panjangku. Sampai akhirnya sepasang mata benar-benar bangun sempurna, terusik suara handphone yang berdenging tepat dibawah bantalku. 
Sama seperti hari-hari lain, tak ada yang spesial hari ini. Tapi sms yang masuk ke handphone pagi itu cukup membuat mataku terbelalak. Seseorang nun jauh disana masih mengingat hari ini, tepatnya tanggal hari ini.
“25 November Vhi,” katanya lewat text yang dikirimkan sedari pagi buta. Aku sudah kenal baik siapa yang hingga kini memanggilku ‘Vhi’. Cukup tersentak dan berusaha mengingat-ingat kembali kejadian tanggal 25 November, 3 tahun silam.
Sudah cukup lama kejadian itu berlalu. Tapi tiap tahun selalu saja ada yang megingatkanku tentang apa yang telah kulakukan 3 tahun silam. Tentu orang yang sama. Jika tahun kemarin aku masih membuka pikiranku untuk mengingat apa yang terjadi di tanggal ini, maka tahun ini aku putuskan untuk tidak ingin megingat-ingat kejadian itu lagi. Terdiam beberapa saat, lalu kembali menyembunyikan handphone dibalik bantal. Melanjutkan tidur sesaat sebelum aku harus bergegas mandi dan berangkat kuliah.
Sudah kubilang, tak ada yang spesial hari ini. Bahkan aku tak memperdulikan tanggal berapa sekarang.  Yang kuingat hanya, hari ini ada adalah hari guru. Disela-sela jadwal kuliah, aku mengirimkan beberapa kalimat pendek ke beberapa kontak guru SMA yang tersimpan di handphone. Mereka pun membalasanya.
Hari ini kuliah sudah dimulai sejak pukul 8 pagi. Aku tidak bisa berlama-lama dikampus. Malam ini jadwalnya bersenang-senang dengan keluargaku di Depok. Tepat hari ini, aku berkesempatan menonton secara langsung acara SCTV Awards. Sebelum berangkat, aku buru-buru menyiapkan kartu ucapan untuk sahabatku yang berulang tahun esok harinya.
Padatnya jadwal hari itu mampu membuatku lupa akan sms yang sejak pagi mangkir di handphone. Yah itu memang yang aku inginkan. Dalam perjalanan menuju Balai Sarbini, aku sempatkan membalas sms itu, walau sudah terkesan basi tampaknya.
“Hmm apa tuh 25 November? Hari guru wkwk,” balasku mencoba melupakan apa yang sebenarnya telah terjadi.
Ia pun langsung membalasnya, tanpa menyinggung apa yang memang telah terjadi tiga tahun lalu. Sengaja tahun ini aku memutuskan untuk lupa. Lupa bahwa 3 tahun lalu, secara sepihak aku memutuskan hubungan kami yang terbilang baik-baik saja. Tapi setelah hari itu, kami tetap berkomunikasi. Bahkan hingga ia dan aku tinggal di kota yang berbeda seperti sekarang. Beberapa tanggal penting itu selalu kami ingat setahun sekali. Tapi satu tahun silam juga, aku mendapatkan sebuah pernyataan dari seseorang yang berharap aku tidak berkomunikasi dengannya lagi.
Bahkan hingga kini, perasaan yang dulu pernah ada sudah takkan pernah membara lagi. Selama kami masih bersama, aku dan dia dekat seperti sahabat, kakak dan adik. Bahkan hingga kami berpisah, dan berkomunikasi seperti sekarang.
Aku menuruti permintaan orang tersebut untuk tidak berkomunikasi dengannya  sampai beberapa bulan. Tapi setelah itu, aku memutuskan untuk tetap menjalalin silahturahmi walau lewat sms saja. Toh kami sudah tidak ada apa-apa lagi. Mungkin takkan pernah lagi.
Tapi nyatanya kami tetap sahabat, kakak dan adik. Walau dia masih memanggilku, Vhi.