Sunday, June 12, 2011

Vira, Gadis di Stasiun Cikini


Kamis sore. Pulang dari berkerja, saya memilih untuk naik KRL dari stasiun Cikini. Sayangnya, Kereta yang akan saya naiki belum tersedia. Untuk beberapa waktu, saya harus menunggu kereta tersebut melintas di stasiun ini. Tidak ada seorangpun bersama saya. Hanya ada satu dua penumpang lain yang hilir mudik bergantian mengisi bangku disebelah saya.
Dari kejauhan terdengar teriakan anak kecil. “Pak saya dapet duit sebelas ribu, pak,” teriaknya sembari mengipas-ngipaskan uang lima puluh ribu. Sentak saja mata saya tertuju pada anak itu. Baju lengan pendek berwarna pink, memakain jeans, dan jilbab hitam. Ia terus berteriak-teriak pada setiap orang yang ada didekatnya. Bahkan ia memanggil-manggil orang yang berada agak jauh darinya. Salah satunya adalah saya. Ia berjalan dari kejauhan sembari berteriak, “Kak, nih saya tadi dikasih duit sama ibu-ibu disana.” Tidak ada yang memberi respon sama sekali. Si anak hanya berteriak sendiri di tengah keheningan penumpang yang menunggu kereta. Sesekali terdengar suara kereta antar provinsi atau kereta ekspress yang melintas.
Tiba-tiba mata anak tersebut tertuju pada bangku kosong tepat disebelah saya. Dengan cepat ia lagsung duduk disamping saya. Tetap dengan teriakannya. Saya yang tak tahu harus berbuat apa, hanya bisa memberikan seulas senyum dan sedikit anggukan. Dari dekat terlihat dengan jelas jika si anak kira-kira berusia 13 tahun. Ia terus berceloteh menceritakan bagaimana ia bisa mendapatkan uang lima puluh ribu tersebut.
Setelah beberapa lama, ia lalu menanyakan kereta yang segera datang sambil menunjukkan tiket KRL ekonomi di tangannya.
“Kak, kakak naik kereta apa? Naik kereta ekspress ya? Ini saya naik kereta apa ya”
“Kak, naik ekspress itu lebih cepat ya dari ekonomi?”
“Kak, saya bisa nggak naik ekpress? Cepet kan ya nyampe nya?”
Pertanyaan itu terus diulang-ulang. Selagi saya bisa menjawab, tentu akan saya jawab. Tapi ada beberapa hal yang mungkin tidak harus dijawab.
“Kakak kerja dimana kak” tanyanya.
“Saya kerja di gambir” jawabku ringan.
“Jadi apa kak di gambir? Di stasiun ya kak?”
“Kakak nggak kerja di stasiunnya”
“Terus kakak kerja dimana? Jadi apa ka?”
Krik krik “Kamu kesini ngapain?”
Dengan cepat si gadis langsung menjawab, “Saya ikut ibu saya naik kereta. Dia jadi guru di Depok”
Sedikit kaget karena dengan cepat ia dapat mengolah pertanyaan dari saya dan langsung menjawabnya. Ia juga hafal deretan stasiun yang ada di jabodetabek. Saya pun sempat menanyakan namanya.
Ketika ditanya bekerja dimana, si gadis dengan cepat pula menjawab, “Saya kerja di Carrefour.” Hmm jawabannya sedikit membuatku tercengang. (maaf) Pasalnya, secara fisik ia terlihat seperti anak jalanan. Kotor dan tidak terawat. Entah apakah ia terobsesi berkerja disana atau karena ia memang pernah berkerja disana.
Segala-sesuatu memang tak bisa dilihat dari kondisi fisiknya belaka. Dari beberapa pertanyaan yang saya lontarkan padanya, ia dengan sigap menjawab. Pertanyaan-pertanyaan tersebut juga tidak sembarangan bisa dijawab oleh seseorang jika tidak memiliki pengetahuan yang luas. Tapi Vira bisa menjawab semuannya. Entah benar atau salah.
Tiba-tiba petugas stasiun memecah keheningkan. Dari speaker terdengar kereta ekonomi akan segera berhenti di stasiun Cikini. Saya pun langsung member tahu Vira. Ia mengucapkan terima kasih dan berlalu bersama kereta ekonomi yang dengan cepat melintas di stasiun ini.