Friday, March 26, 2010

‘HARTA’ MENJADI PENENTU BERITA


Oleh : Hasti Triana Putri
Perkembangan terkonologi menggiring terobosan baru diberbagai bidang, termasuk kalangan media massa. Sebagai wadah berbagi informasi, media massa mengalami banyak kemajuan. Tidak hanya media cetak yang dapat dinikmati publik saat ini, tetapi ada jenis media siar dan media online yang tentunya dapat dengan mudah diakses di era teknologi modern ini. Media baru mempunyai maanfaat yang tak kalah efektifnya dari media-media lama.  Layanan informasi yang cepat, digital dan dualtext, turut menjadi alasan mengapa media baru lebih dimaminati banyak kalangan. Kedatangan media baru ini tidak hanya membawa dampak positif. Ada kalangan tertentu yang memanfaatkannya sebagai lahan untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya.
Ideologi kapitalisme telah masuk dalam sela-sela kehidupan masyarakat. Beragam hal dijadikan sebagai orientasi ekonomi yang dapat menghasilkan keuntungan. Begitu pula dengan dunia media massa dan komunikasi. Akhir-akhir ini isu yang santer dibicarakan adalah seputar kapitalisme media dengan kepentingan ekonomi sebagai tujuan utamanya. Ideologi demikian menyebabkan media massa mengalami perubahan menjadi sebuah usaha industri ekonomi. Tak ayal apa bila dikatakan bahwa dengan menguatnya orientasi ekonomi mengakibatkan para industri media massa mengabaikan ideologi utamanya, yaitu sebagai penyedia informasi bagi publik. Sebagaimana kita ketahui bahwa media massa mempunyai tugas untuk memberikan informasi, mendidik, mempengaruhi dan menghibur.  Selain itu, media massa juga mempunyai peran yang amat penting. Sebagai kontrol sosial, baik terhadap pemerintah selaku penguasa ataupun terhadap masyarakat selaku yang dikuasai agar memberikan tranparansi atas pemerintahan yang berjalan. Inilah mengapa kehidupan media massa tetap harus dipertahankan.
Pada masa orde baru, media massa dikendalikan oleh pemerintah sehingga informasi yang diberikan kepada publik terbatas. Dengan kata lain, media massa bersifat istana sentris. Tidak dapat memberikan informasi yang berhubungan dengan pemrintah, terutama isu buruk. Saat ini, media masa tidak lagi tunduk kepada pemerintah yang berkuasa, tetapi sudah menjadi media yang bebas dan bertanggung jawab. Kebebasaan yang dimiliki oleh kaum penyedia informasi tersebut menyebabkan terjadinya persaingan antar penyedia media. Sehingga masing-masing pengelola berusaha untuk mempertahankan kehidupan medianya. Atas nama persaingan ini, ideologi pers sering terabaikan akibat arus pasar semakin mendorong mereka untuk memberikan hal-hal yang dianggap istimewa bukan hal-hal yang seharusnya. Kompetisi semcam ini bukanlah kompetisi yang yang wajar. Dimungkinkan adanya manipulasi dan difungsi media. Inilah yang menjadi dampak buruk atas kebabasan pers. Kemanakan pers yang bebas dan bertanggung jawab tersebut ?
Istilah kapitalisme dikenalkan oleh Marx Weber, dimana inti dari  ajaranya adalah orientasi rasional atas keuntungan ekonomi. Kapitalisme media di Indonesia dapat dilihat dari maraknya iklan-iklan yang muncul sebagai pengisi kehidupan pers. Iklan dijadikan senjata utama para media untuk mengeruk keuntungan. Walaupun sebenarnya produk apapun  memang membutuhkan iklan agar lebih mempermudah pemasarannya. Hal demikian nantinya akan dijadikan lahan ekonomi besar-besaran oleh para penyedia media masa yang dikhawatirkan menimbulkan dominasi pemberitaan seputar iklan dibandingkan informasi penting yang bersifat sosial, politik, hukum maupun budaya. Akhirnya akan menghasilkan kebobrokan media dan publik pun akan terseret dalam pengaruhnya.
Disisi lain, konglomerasi media juga sedang menggejala dibanyak industri. Terutama didunia media cetak dan media siar. Tak dapat dipungkiri jika saat ini banyak media massa yang dikuasai oleh para pemilik modal. Pada akhirnya nanti berita yang disiarkan akan terfokus pada kepentingan dan keinginan mereka yang memiliki modal. Kembali pada kebebasan pers yang telah dipertanyakan diatas, saat ini media massa yang telah dibebaskan kembali pada keterkekangan perintah di zaman orde baru. Tapi malah pemilik modal yang menentukan arah kebijakan dan pemberitaan yang diterbitkan. Hal ini terkait dengan kemajuan teknologi yang akhirnya berimbas pada kecendurungan media massa menjadi buta akibat persaingan dan kepentingan kapitalisme. Sehingga tidak lagi mengindahkan peraturan yang sebenarnya. Rasanya, dunia saat ini benar-benar dipenuhi oleh pikiran kapitalisme yang hanya bisa melemahkan posisi orang-orang biasa.
Tidak lain dan tidak bukan, publik selaku konsumen yang akan menjadi korban atas disfungsi yang dilakoni oleh media. Bahkan konsumen cenderung berpaling ke media-media sederhana yang tak bergelut didunia kapitalisme. Menyebabkan mereka yang       menggobar-gambirkan kehebatan melalui persaingan yang malah menjadi rugi. Sehingga bukanlah kehebatan apalagi pikiran kapitalis yang dicari, tetapi siapa yang mampu memenuhi kebutuhan konsumen atas informasi secara tepat, cepat, akurat dan berimbang.
Sebagai publik yang menikmati jasa kaum media massa, patut kita tanyakan, kemana natinya ideologi media massa Indonesia bermuara. Apakah pikiran ekonomi selalu menghantui mereka yang berkuasa ? Ataukah pemerintah kembali akan menerapkan kebijakan istana sentris untuk menyamaratakan semua media massa dan pada akhirnya berimbas pada keterkekangan lagi ? Kedua hal tersebut tetap akan merugikan publik. Kecuali media massa dan pemerintah benar-benar menerapkan sikap bebas dan bertanggung jawab serta arah ideologi media massa yang berimbang.