Monday, December 30, 2013

140 characters

Bagaimanapun kerasnya badai kehidupan, selalu ada pelangi bernama cinta, 
yang selalu sabar menunggu awan terbelah, yang indah dan tak berujung.

Masa depan itu bagai lorong yang gelap, jika menyusurinya tanpa tujuan 
kita akan gusar, sikut sana-sini, lalu sampai ke entah-dimana.

Ambisi yang egois itu bagai salju longsor, terlihat putih, namun tak ragu 
menghancurkan apapun yang dilewati demi sampai ketujuannya.

Keacuhan itu bagai aliran air, menikmati keadaan dengan mengalir, 
lalu tanpa sadar sampai ke tempat yang paling rendah.

Masa depan itu jauh dan berkabut, butuh teleskop bumi bernama visi hidup 
dan lentera bernama ilmu pengetahuan untuk memandangnya.

Hanya orang-orang yang memiliki tujuan yang bisa sadar dirinya sedang tersesat, 
dan bisa bergegas menengok kembali peta kehidupan.

Tersesat memang bukan berarti buruk, tapi takkan pernah menghantar ke tempat yang baik. 
Tapak kaki kita di bumi adalah sebuah tanggung jawab.

- seorang @adriandanarw