Sejuk angin beradu dengan tawa
dedaunan menyambut langkah di pingiran jalan, Ciwidey, Bandung, Jawa Barat.
Gelak tawa ramai merasuki semak pohon yang berdiri kokoh sepanjang jalan.
Langit biru dan terik yang menyejukkan menambah kehangatan perjalanan hari ini.
Hijau kaki bukit menyambut kami datang melepas letih, merajut kebersamaan.
“Langit biru, awan putih,
terbentang indah lukisan yang kuasa. Ku melayang di udara...” sebait lagu yang
ramai menyeruak dalam satu mobil yang terus melaju kencang meninggalkan jalanan
menuju Kawah Putih, Ciwidey. Hari ini masih panjang. Lewat sebuah kamera yang
merekam tiap moment tawa disana, kami terus melanjutkan lagu Tasya yang
dialunkan sepanjang jalan. Tangan terbentang menangkap tiap sejuk yang menenangkan.
Semua tidak dapat dideskripsikan.
Kami berbaur pada tiap detail
pesona yang tertata dalam gegam alam. Yang menyandarkan dingin pada hangatnya
kebebasan dan kebersamaan. Di bawah birunya langit dan lukisan Tuhan yang
indah, kami menjadi bagian dari kumpulan manusia yang datang tanpa membawa
beban dan tak meninggalkan luka. Kami berpadu dalam tawa dan kagum Ciwidey hari
ini. Menanggalkan tiap perbedaan. Kesetaraan yang kabur ditumpukan persaingan.
Walau sederhana, semua menjadi
masa yang tak bisa dibeli. Hanya dirindukan kini.


