Saturday, October 22, 2011

ANDAI AKU BISA TERBANG .Part 1


Secarik surat kusam ditulis seorang anak dalam remang lilin setiap malam. Ia menyampaikan keinginannya dengan setulus hati.
Setiap pagi ia selalu menanti-natikan malam tiba. Hingga orang tua dan adik-adiknya tertidur pulas, usai berkerja mencari nafkah hingga petang. Ia dan keluarga ialah pencari ikan di sungai dan kali sekitar kampungnya. Hasilnya juga tidak banyak, hanya cukup untuk makan ala kadarnya. Malam hari seharusnya dipakai untuk istirahat. Tetapi Agit memilih untuk tetap terjaga hingga pertengahan malam.
Waktu bergulir setiap harinya. Ia tak pernah tidur sebelum lilin dirumahnya padam. Ayah dan ibunya juga selalu menyuruh ia tidur cepat agar bisa mengumpulkan tenaga untuk berkerja esok harinya. Tapi ia selalu berkelit.
Saat keluarganya tidur, ia mulai mengeluarkan kertas bekas dari dalam tas karung yang dibuatkan ibunya. Dikeluarkannya juga pulpen dan pensil yang dipungut dijalan-jalan. Kata per kata ia tulis. Walaupun tidak terangkai menjadi kalimat yang indah, ia tetap terus menulis. Apa yang ada dilihatnya, apa yang ditemuinya, apa yang dipikirkannya dan apa yang  dirasakannya.
Didesanya dulu pernah ada anak-anak muda dari kota yang secara sukarela memberikan pengajaran kepada anak-anak dikampung Agit. Ia adalah salah satu anak yang selalu aktif saat ada pengajaran. Walaupun hanya beberapa hari, Agit sudah bisa membaca dan menulis seadanya. Setelah anak-anak kota itu tak lagi datang ke kampungnya, Agit tak henti belajar. Jika ada kertas dan alat tulis lain yang terjatuh dijalan-jalan, ia mengambilnya untuk bekal belajar. “Toh yang punya saja sudah tak peduli,” pikirnya.
Suatu hari diperjalanan menuju ke kali, ia menemukan sebuah benda yang berisi kertas-kertas. Didalamnya juga ada banyak sekali hurup. Ada gambar yang bagus. Tulisannya juga bagus. Matanya tak henti menata setiap gambar yang ada dalam benda itu. “Ini apa ya?” “Hah gambarnya kenapa aneh sekali.”  Sejak saat itu, ia selalu membawa benda tersebut didalam tasnya. Mungkin sudah ratusan kali ia buka. Kalau ia temukan kesamaan antara kenyataan dan gambar dibenda itu, ia segera keluarkan buku dan menulis, “ada.”
Beberapa bulan berlalu setelah ia mendapatkan benda itu. Hampir semua gambar sudah diberikan label ada. Tapi tidak untuk gambar-gambar yang tidak ditemukan didaratan, khususnya daratan rumahnya. Seperti pesawat, meteor, bulan, jet dan gambar luar angkasa lainnya. Ia ragu-ragu dengan apa yang digambarkan dalam benda itu.
Setiap malam ia tuliskan semua yang dilihatnya…