Monday, May 9, 2011

A Day to Remember


Tiba lah hari yang kami tunggu-tunggu. Aku, Ketie dan Lita sudah lama berencana pergi ke Mangga Dua untuk (sedikit) berbelanja. Kegiatan ini memang manjur untuk merefreshing kan pikiran setelah sekian bulan berkutat dengan tugas kuliah dan kegiatan lain. Bagi wanita, beberlanja is a must. Tapi bukan berarti berbelanja dengan menghabiskan banyak uang. Sebagai anak perantauan, tentu yang menjadi sasaran belanja kali ini adalah keperluan yang sangat amat dibutuhkan. Dan yang menariknya lagi, hari ini bukan hanya jadi hari belanja, tapi 
menjadi salah satu hari dimana kami bisa berkumpul dan tertawa bersama lagi.

Hari yang panjang dan melelahkan.

Start. Perjalanan dimulai pukul 13.00 ketika Lita selesai siaran di RTC UI FM. Sayangnya, kereta Ekonomi AC yang harusnya kami naiki baru saja melintas di depan mata saat kami tiba di stasiun UI. Akhirnya kereta ekonomi mejadi pilihan kami menuju stasiun kota. Berharap kereta kali ini tidak seramai kereta ekonomi yang biasa kami lihat

Nampaknya doa kami didengar, setelah sekitar sepuluh menit menunggu, kereta pun datang.  Walaupun harus berdiri, tetapi masih tersedia ruang-ruang di dalam kereta. Beberapa sorot mata tertuju pada kami yang saat itu masuk dengan terengah-engah, khawatir kereta segera bergerak. Suasana di dalam kereta ekonomi memang khas. Jarang terlihat ada orang berpakaian rapi dalam gerbong kereta. Justru mereka dengan barang yang banyak dan tampaknya akan dijual kembali.

Bisa dihitung dengan jari berapa kali aku naik kereta ekonomi, hmm rasanya ini yang ketiga. Yaah wajar saja karena aku jarang keluar dari kota Belimbing ini. Tapi ada yang lebih jarang daripada aku, yaitu Ketie *piss.  Bahkan Ketie baru mengetahui jika di dalam kereta ada orang-orang yang hilir mudik menjajakan dagangan. Mulai dari makanan kecil, minuman dingin, gunting dan aksesoris handphone. “Gunting, gunting,” “Minuman segar Minuman dingin. Silahkan silahkan.” Begitulah segelumat kebisingan di antara bunyi kereta yang melintas cepat. Belum lagi suasana yang menjadi padat karena penjual hilir mudik sibuk menjajakan dagangannya. Hmm cukup menganggu penumpang, pikirku.

Jika diingat-ingat, aku juga pernah naik kereta ekonomi tujuan Jakarta Pukul 19.00 WIB. Wowww wonderful. Di dalamnya tidak hanya ada pedagang. Tapi ada sekelompok pemusik dangdut yang siap menggoyang gerbong hahaha. Penumpannya saja sudah ramai, apalagi ditambah pedangdut dan speaker besar yang dibawa hilir mudik. Ada-ada saja kehidupan ini. Tapi musik itu sama sekali tidak menggoyangkan hati ini. Diterpa angin dari luar jendela, dan musik yang berdengung-dengung ditelinga membuat aku berpikir, kehidupan Jakarta memang keras. Sekeras hatiku, mungkin.

Back.

Setelah beberapa stasiun terlewati, akhirnya aku, Ketie dan Lita punya kesempatan untuk duduk sebelum sampai di Stasiun paling akhir. Aku tetap memilih diam dan merencanakan tulisan ini selama perjalanan. Nampaknya kedua temanku yang sangat suka gossip sedang melangsungkan kegemarannya tersebut. Entah nama siapa saja yang sudah menjadi bahan pembicaraan mereka selama perjalanan ini.
Kalau saja saat itu aku membawa kamera, mungkin aku sudah mengabadikan beberapa angle foto yang cukup menarik. Nampak ibu-ibu berumur duduk di ujung kursi sambil menidurkan anaknya. Bapak tua yang duduk tepat disampingku juga terlihat begitu lelah. Baru beberapa menit duduk, beliau sudah tertidur dalam posisi duduk. Di hadapanku ada seorang remaja yang sibuk menelpon. Pakaiannya seperti pria, tapi kalau dilihat-lihat wajahnya cukup cantik seperti seorang wanita. Buru-buru aku memalingkan wajah ketika si remaja sadar bahwa ia sedang aku perhatikan.

Satu moment yang menjadi awal cerita lucu hari itu. Karena terlalu banyak orang yang berlalu di stasiun kota, Aku, Ketie dan Lita terpisah. Ketie berada tepat di belakangku, sedangkan Lita berjalan dengan langkah cepat menuju Gallery ATM yang ada di dalam stasiun. Tiba-tiba sebelum kami berhasil menyusul Lita yang sedang berjalan sendirian ditengah keramaian, kaki (mungkin) kanan Lita menginjak secumpuk air busa hingga hampir terjatuh. Kami yang berada tidak jauh dibelakang Lita buru-buru menghampirinya sebelum ia mati gaya ditengah keramaian.

Setelah benar-benar berada di dalam ATM yang kami tuju, tawa yang sangat amat terbahak-bahak keluar dari mulut masing-masing, sambil membayangkan Lita yang jatuh hanya gara-gara menginjak cairan busa yang hanya ada ditempat ia jatuh. Diameter cairan itu bahkan tidak sampai 10 cm. dibagian lantai manapun tidak ada cairan itu. Entah darimana datangnya. “Mungkin Allah sengaja menyiapkannya khusus buat Lita,” kata Ketie sembari tertawa.

Saatnya belanja. Tidak banyak yang kami beli saat itu. Hanya keperluan kuliah yang mendesak dan memang harus dibeli. Hampir 3 jam kami mengelilingi toko-toko yang ada di ITC Mangga Dua. Dan akhirnya semua yang inginkan sudah disimpan diplastik belanjaan. Tidak sia-sia.

Ketika beberapa menit sampai di Stasiun kembali, kereta ekonomi AC yang akan membawa kami pulang ke Depok datang. Sederetan orang sudah menunggu dipinggir rel menantikan pintu terbuka. Sayannya, kami tidak bisa mengalahkan kecepatan wanita-wanita lain yang sudah standby untuk menyerbu gerbong wanita. Akhirnya kami memilih untuk berdiri di dekat pintu.

Stasiun demi stasiun dilalui. Pintu yang berada tepat dihadapan kami tebuka dan tertutup begitu cepat. Dikeheningan gerbong kereta, tiba-tiba terdengar suara teriakan seorang wanita dari depan pintu lainnya. Ternyata, sebelum ia masuk dengan sempurna ke dalam gerbong, pintu sudah ditutup, menyebabkan ujung tas yang bawanya terjepit dan tidak bisa dilepaskan. Raut wajahnya tampak emosi dan juga khawatir. Pintu pun kembali terbuka ketika kereta berhenti di stasiun selanjutnya. “Wanita itu pasti lega,” ucapku dalam hati. Hingga kereta ini membawa kami kembali menuju stasiun UI. Pukul 19.00 WIB. And I called all as a day to remember.
I really really happy to have you, Guys :*