Wednesday, March 2, 2011

Me and Me Behind My Parents



Hidup Adalah Sebuah Tantangan Islami (HASTI). Tempatku berpijak, disini. Bumi Ibu Pertiwi. Dibawah naungan negeri, Indonesia.
Dalam belai lembut dan kasih mereka yang selalu bersamaku, kala susah dan senang.  Bukan teringat tentang kisah persahabatan dan pendidikan, apalagi kisah cinta yang tak berguna. Memoriku saat ini memutarbalikan pikiranku ke sebuah rumah tempat mereka yang saat ini sedang berkumpul. Tempat mereka tertawa bersama. Tempatku dijaga dan dibina.
Yaaah. Ini adalah tentang Papa, mama, dan saudaraku. Enam anggota dalam satu keluarga yang kesemua namanya mempunyai awalan huruf H. H’s Family.
Banyak cerita yang mampu ku ungkapkan sebelum air mata ini benar-benar tumpah ketika setiap wajah mereka satu persatu muncul dibenakku.
Aku dididik dan dibesarkan dari keluarga sederhana yang mungkin sangat biasa dikalangan mereka yang luar biasa. Tapi, kami adalah keluarga yang luar biasa diantara mereka yang biasa.
Kayuagung,
11 Februari seribu Sembilan ratus Sembilan puluh dua,
huh, udara sejuk. Mentari bertajuk cinta.
Seraya menyapaku dipagi indah. Ketika aku benar-benar lahir.
Papa, Mama.
Mungkin mereka adalah orang yang pertama kali ku lihat. Tapi mungkin,
Lalu, ada kakakku.
Sebagai saudara tertuaku,

Apa yang ku katakan istimewa memang sangat istimewa. Secara tak sadar, aku hidup dalam keluarga dengan semua saudara perempuan. Mau tak mau menyodorkanku agar selalu bertindak dan berprilaku wajar seperti perempuan pada umumnya. Bukan mobil-mobilan apa lagi pertandingan bola, tapi boneka dan alat memasak yang menjadi senjata tangguhku kala itu.
Namun, tidak hanya sekedar mama yang berada mendampingiku. Sosok tangguh papa juga selalu menyemangatiku dan berada dibelakang saat aku berjalan. Ia siap menangkapku jika suatu ketika aku akan jatuh. Dia siap untuk mendorongku jika kelemahan merasukku. Dan dia yang memberikan pertimbangan padaku tentang segala sesuatu yang akan kupilih.
Jika kebanyakan anak perempuan bergantung kepada Ibunya, maka sedikit berbeda denganku. Kedekatanku dengan Papa membuat beberapa pola prilaku yang aku miliki mirip dengan beliau. Aku kagum dengan caranya berbicara didepan orang banyak, aku kagum caranya mengajarkanku tentang segala hal, dan aku kagum dengan caranya memarahiku jika aku salah. Sedikit banyak tingkah laku itu yang aku bawa hingga saat ini. Dari materi kuliah Psikologi Komunikasi yang aku ikuti, pola seorang anak yang mengikuti tingkah ayahnya menunjukan bahwa sang anak cenderung lebih dekat dengan orang tua laki-lakinya tersebut. Ada banyak cerita yang bisa aku bagi dengan papa, termasuk soal politik sebagai bidang yang digeluti papa saat ini. Mungkin ini juga salah satu alasan mengapa aku jadi tertarik dunia politik. Jika dihadapkan dengan berbagai pilihan dan pertimbangan, tak lupa aku meminta bantuan papa. Ia tidak secara langsung memilihkannya untukku, tetapi pandangan-padangan yang diberikan membuat aku lebih tegas mengambil keputusan itu. Walaupun demikian, aku juga tetap sangat dekat dengan mama. Yaaah anak perempuan tentu punya banyak cerita yang akan ia sampaikan dengan Ibunya.
Dulunya, aku dan mama memang tidak sedekat aku dan papa. Tetapi ketika aku duduk di bangku SMA dan harus tinggal di asrama membuat aku selalu ingin menceritakan banyak hal yang dialami disana kepada mama. Tentang kamarku, sekolah, teman-teman, termasuk teman laki-laki yang dekat denganku saat itu. Mama juga menanggapi berbeda dengan saat aku masih kecil. Ia benar-benar mengajariku banyak hal, mengajariku hidup lebih dewasa, hidup di tempat orang. Hingga detik-detik menjelang Ujian Nasional, baik papa maupun mama sangat menyemangatiku dan membantuku mempertimbangkan perguruaan tinggi yang akan kuambil nanti. Beberapa hari sebelum ujian, aku ingin menghabiskan banyak waktu bersama mereka, mengistirahatkan otakku sejenak sambil refreshing sebelum ujian berlangsung.
Hingga akhirnya aku dinyatakan lulus ujian dan melanjutkan ke Universitas Indonesia, Depok. Mau tak mau tinggal bersama keluarga Om dan Tante di Jakarta adalah pilihan yang terbaik untuk hidup jauh dari orang tua. Wajar saja jika dari awal tinggal disini, aku selalu puny cerita untuk mereka. dalam waktu satu minggu, sekitar dua kali papa selalu menghubungi. Walaupun sekedar menanyakan kabar, tetapi niatnya menyempatkan waktu untuk menelpon, sudah cukup berharga. Begitupun mama yang selalu memberikan nasihat-nasihatnya, serta menguatkanku disaat aku lemah.
The most beautiful thing in this world is to see my parents smiling, and the next best thing is to know that I am the reason behind that smil.