Kehidupan adalah sebuah proses. Suka duka berbaur menjadi jejak yang akan dikenang sepanjang masa.
Pergatian usia kini menghapiriku lagi. Ditahun 2011 ini, genap 19 tahun sudah aku lahir kedunia. 19 tahun sudah jantung ini berkerja. Dan 19 tahun sudah tubuh ini terperanjat mengarungi kehidupan. Walau sederhana, tapi memang Sembilan belas tahun bukan waktu yang singkat untuk menghayati makna kehidupan. Tapi Sembilan belas tahun sudah masa hidupku habis didunia, dunia yang hanya sementara.
Beruntai doa dan harapan mengalir untukku yang tepat berulang tahun hari ini. Spesial ditanggal yang cukup indah buatku, 11022011 J walaupun tidak memiliki makna yang khas, tapi kalaborasi angka-angka itu memang cukup menarik.
Seperti pergantian usia sebelumnya, tengah malam, selalu ada seseorang yang menyampaikan doanya secara langsung via telpon. Dia yang selalu membuat pergantian tahunku terasa lebih bermakna. Rekan seperjuanganku. Terima kasih. Diiringi ucapan selamat ‘ulang tahun’ dan doa lainnya yang meluncur dari setiap kontak yang ada dihandphone. Belum lagi mention twitter dan wall facebook. Tapi sebenarnya, moment ini adalah moment berharga. Aku diingatkan akan usiaku yang berkurang, aku diberkan doa-doa terbaik dari orang-orang yang kusayang. Aku memaknai kehidupan baru diusia baru.
Pagi menjelang siang, setelah kuliah pertama dan terakhir untuk hari ini selesai, perayaan ulang tahun super sederhana diberikan oleh teman-teman tersayangku #kom9, Lita, Ketie dan Fany. Surpriieesss. Yaah memang surprise buatku. Tak terpikirkan kalau mereka akan merayakan ulang tahunku walau dengan kue cubit dan sebongkah kado yang berbentuk mangkuk dibungkus kertas kado pink. Terima kasih mereka telah mengingat hari ini, tepat ketika aku dilahirkan kedunia.
Party selesai. Satu sama lain kembali sibuk mejalankan aktifitasnya. Lita (katanya) pergi ke RTC UI FM. Fany kabur ke BEM. Terisisa aku dan Ketie duduk di takoru – kantin FISIP. Selama beberapa menit panjang hanya memikirkan kebimbangan kami ikut tes wawancara masuk BEM FISIP UI. Ke-galau-an akhirnya berhasil dimusnahkan setalah tiga puluh menit kemudian. Kaki kami melangkah pasti menuju Yong Ma –tempat diadakannya wawancara, sebelum terhenti dan memutuskan untuk duduk dulu dibangku taman. Lima menit kemudian, kami benar-benar meyakinkan langkah kami untuk ikut tes wawancara dengan sepenuh hati. *konyol
Satu, dua jam berlalu. Wawancara selesai. Panas dan lapar menyelimuti raga kami. Yap. Takoru jadi pilihan lunch kali ini. Satu, dua menit hujan turun. Sampai satu jam selanjutnya, badai mampir dulu di Depok. Hujan lebat dan petir menyelimuti FISIP dan sekitarnya. Oke mungkin memang badai ini yang akan membuat hari ulang tahunku ini berbeda. Walau badai belum kunjung usai, Ketie harus masuk kelas dan mengikuti perkuliahan selanjutnya. Tinggalah seorang birthdays’ girl sendiri. Akhirnya aku memilih pergi ke Detos guna membeli salah satu buku bacaan kuliah yang kabarnya ada disana. Setelah dijambani, stock bukunya sudah kosong. Sia-sia.
Dengan langkah yang cukup ringan, akhirnya sampai dirumah. Hanya ada nenek dan Nabila – sepupuku yang berusia 5 tahun. Sambil membalas setiap text message, wall atau mention yang masuk, aku main bersama Nabila. Hinggu sekitar pukul 6 sore, sepupuku – usianya sekitar 26 tahun- pulang kerumah dan mengucapkan selamat ulang tahun yang memang belum disampaikannya sejak pagi. Aneh sih, tapi ia mengingatkan untuk menunda mandi sore yang segera kulakukan saat itu. Mungkin karena tradisi keluarga adalah melempari telor untuk yang berulang tahun, pikirku. Apapun yang akan terjadi, aku tetap memutuskan untuk mandi sore hari ini.
Sekitar pukul tujuh malam.
Usai mandi, aku kembali kekamar. Tapi pintu kamar terkunci dan orang-orang disekitar kamar - nenek, dan tanteku yang datang kerumah- hanya diam saja. Pasti sepupuku menyiapkan telor dari kamar karena kamar tidak pernah dikunci kecuali saat sedang sholat. Tapi dia sudah menjalankan kewajibannya tersebut, pikirku lagi. Sedikit berontak, tolong bukakan pintu kamar. Krek, kunci terbuka.
Lampu kamar dimatikan. Dibalik pintu ada tiga wajah yang kukenal dengan baik. Terakhir aku bertemu mereka dikampus saat memberikan surprise sederhana di takoru tadi. TAPI TERNYATA MEREKA SUDAH ADA DI RUMAHKU, BAHKAN DI KAMARKU. Aku tertegun, teharu dan tidak bisa berkata apapun. Pikiranku tidak sepanjang jika aku memikirkan mereka adalah orang yang datang kerumahku, bahkan mengunci kamarku. Karena tak ada satupun yang pernah datang kerumah dan tau dimana aku tinggal. Dengan pakaian mandi, aku menyambut dua cake berhiaskan lilin 1 dan 9 yang melabangkan usiaku saat ini. Kalau tidak malu, mungkin air mata ini sudah mengalir begitu saja. Terharu :’)
Apa yang ada dipikiranku saat itu adalah Tuhan sangat baik mengantarkan mereka kerumahku. Memberikan mereka sebagai teman baikku. Entah rencana apa yang telah dijalankan hingga mereka sukses masuk kekamar dan memberikan surprise luar biasa untukku. Apapun itu, aku sangat menghargai niat mereka. Aku sangat menghargai apa yang telah mereka lakukan untukku, hari ini.
Kamar berantakakan, pakaian tidak memadai. Tapi moment itu sungguh membuat hariku lebih berharga. Ini adalah bagian dari keinginanku, Tuhan menghentikan waktu itu sesaat untukku. Biar kami masih bisa bersama sebelum kembali kekesibukan masing-masing.
Kue cubit dan kado berbentuk mangkuk yang diberikan tadi pagi hanya surprise palsu.hohohoo aku senang karena ternyata mereka membawa cake dan kado asli untukku. Ditambah mahkota cantik dengan foto-foto dan pesan dari mereka. Termasuk voice note dari Gadis – di Singapura- yang dititipkan untukku. Kata-kata sangat ramah, dekat denganku. Walaupun kami tidak lengkap berlima, tapi semua tetap indah. Bahkan aku tak sempat sekedar melihat jam dinding yang ada dikamarku untuk tau jam berapa mereka meninggalkan rumahku. Mungkin karena aku terlalu bahagia J
Untuk hari yang akan kurindukan sepanjang masa.
Untuk mereka yang membuat hariku bermakna.
Dan Untuk Allah yang selalu memberikan ridhonya padaku.
Selamat meninggalkan usiamu yang kedelapan belas dan selamat memasuki babak baru diusiamu yang ke Sembilan belas, Hasty Triana Putri.